Oleh: Dr. Amri Fatmi, Lc.,. M.A*
Senin, 29 Juli 2019, pagi, saya diterima oleh Wakil Presiden (Wapres) RI, Bapak Jusuf Kalla (JK) di kediamannya. Sambil minum teh dan makan kudapan pisang goreng, kami berdiskusi selama satu jam lebih, membahas terkait agama, Aceh, dan isu global. Dalam bincang hangat itu, saya menerima wejangan dari beliau.
Jusuf Kalla mengatakan, ada hal penting yang dipelajari dirinya dari sosok sang ayah JK. Menurutnya, prinsip yang dipegang teguh ayahanda JK terkait mengapa dirinya harus menjadi pengusaha karena dirinya harus menjadi seorang muzakki. “Maka setiap tahun ayah saya tidak pernah bertanya berapa untungmu tahun ini, tetapi berapa zakatmu tahun ini,” ujar JK dengan tawa khasnya.
Dalam bincang-bincang itu, JK juga mengajak penceramah jangan hanya membahas cara membayar zakat dan siapa penerimanya. Namun penceramah diminta untuk memberikan motivasi dan mengajak sebanyak-banyaknya orang lain agar naik taraf. Jika selama ini hanya menerima, maka beberapa tahun ke depan agar menjadi Muzakki, menjadi sebagai pemberi zakat.
Begitu pula dengan Aceh, dia mengakui Aceh tidak akan maju hanya dengan mengharap besarnya dana dari pemerintah. Menurutnya, belum pasti dana besar tersebut akan sampai semua ke tangan rakyat kecil.
Tapi, kata JK, yang menjadikan ekonomi Aceh maju adalah gerakan ekonomi rakyat dan para pengusaha dari Aceh sendiri. Maka penceramah wajib untuk menyemangati rakyat Aceh untuk bangkit membangun usaha.
Dalam membangun usaha, lanjutnya, diharapkan pula agar jangan menumpu harapan pada pemerintah, tak banyak yang bisa dibantu oleh pemerintah dan semua bisa lamban. Pemerintah, katanya, hanya mampu menyediakan infrastuktur yang selanjutnya dimanfaatkan oleh rakyat yang kreatif. Sebab, jika usaha tersebut tidak dimanfaatkan oleh masyarakat, maka semua usaha dan layanan pemerintah jadi tidak berguna.
Maka dari itu, timbul pula pertanyaan dari JK, siapa yang dapat menyemangati para generasi Aceh untuk bangkit membangun usaha? Maka jawabannya adalah tempat-tempat pendidikan di Aceh, terutama kampus-kampus pendidikan tinggi.
JK mengenang, dulu, pengusaha Aceh merajai Sumatra, bahkan di Medan banyak dikuasai oleh pengusaha Aceh. Dia menyinggung, “siapa tidak tahu Aceh Kongsi?”.
Namun, akibat konflik yang panjang, para pengusaha ini keluar Aceh. Sekarang para pengusaha Aceh di luar perlu untuk kembali dan memberikan perhatian untuk Aceh, mungkin dengan membuat gerakan usaha di Aceh. Dengan begitu, pengusaha Aceh dapat membantu rakyat untuk bangun usaha.
“Dan itu yang dilakukan selama ini oleh para pengusaha Bugis,” ujarnya.
Setiap tahun, tambah JK, ada perkumpulan pengusaha Bugis berkumpul untuk memikirkan usaha di kampung halaman.
Dia juga pesimis bahwa Pulau Weh, Sabang bisa seperti dulu dengan pelabuhan yang maju dan barang yang masuk lewat Sabang. Hal itu karena kondisi kapal hari ini sudah canggih dan tidak lagi perlu singgah di Sabang, diikuti pula oleh kondisi aturan perekonomian global yang sudah berubah.
Semua negara Asean, kata dia, boleh memasok barang ke sesama negara anggota dengan membayar pajak 0 persen. Jadi, banyak pelabuhan lain di Indonesia telah terbengkalai karena aturan itu. Padahal, pelabuhan-pelabuhan itu dulunya maju, termasuk Sabang. Jadi, bukannya juga pemerintah tidak mau bangun pelabuhan Sabang, ya.
Pun demikian, JK berharap Aceh jangan pula khawatir atas hal tersebut sebab Sabang bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata laut dan gunung. Nah. Agar Sabang berkembang, perlu pula akses yang mudah, selain keramahan rakyatnya terhadap para tamu yang datang.
Menurutnya, keramahan warga dan baiknya infrastruktur dan kemudahan akses di daerah destinasi wisata itu sangat penting. Sebab Aceh berada di kawasan wisata yang cantik.
Itulah diskusi singkat saya dengan Wapres Bapak Jusuf Kalla yang dapat saya bagi kepada pembaca. Keramahan dan mudah berkomunikasi dengan siapa saja, menjadi sifat menonjol Bapak Wapres kita.
Walillahil hamdu.
*Dr. Amri Fatmi Lc., M.A., berdomisili di Blang Asan Sigli, Pidie. Aktif sebagai da'i di Aceh dan beberapa daerah lain di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Makassar, Lampung, Bengkulu dll.







