Banjir yang melanda sebagian wilayah di Aceh juga merendam Pesantren Ma'hadal Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Penghuni asrama putri terpaksa pindah ke lantai II gedung. Rabu, 10 Februari 2016

“Air di asrama putri sampai 1 meter, air masuk pada pukul 23:30 tadi malam,” ujar Tengku Martunis, pengurus pesantren Ma'hadal Ulum Diniyah Islamiyah, Rabu, 10 Februari 2016.

Dia menyebutkan selain menggenangi asrama putri, air juga merambah seluruh areal pesantren dan desa-desa yang berdekatan dengan lintasan Kreung Bate Ilik. “Banjir ini akibat meluap Kreung Bate ilik,” tambah Martunis.

Pesantren Ma'hadal Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI Mesra) Mesjid Raya, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, adalah salah satu pasantren tua di Aceh yang telah melahirkan puluhan ribu santri.

Dayah atau pesantren yang didirikan pada masa Sultan Aceh, Sultan Iskandar Muda itu, pimpinan pasantren pertama adalah Tengku Faqeh Abdul Ghani. Kini pesantren tersebut telah berkembang hingga memiliki Sekolah tinggi Agama Islam.

Tiga kecamatan

Sementara itu, Bupati Aceh Timur Hasballah M. Thaib memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Bagian Kesejahteraan Rakyat Aceh Timur secepatnya menyalurkan bantuan bahan makanan kepada korban banjir.

“Saya telah meminta camat segera kirimkan data jumlah korban ke Bagian Kesejahteraan Rakyat untuk proses pendistribusian sembako dan bantuan lain, agar korban banjir tidak sampai kelaparan,” ujar Bupati Hasballah, Rabu, 10 Februari 2016.

Berdasarkan data di Bagian Kesra Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Timur, hingga Selasa lalu, 60 desa di delapan kecamatan masih terendam banjir. Rinciannya, 9 desa di Kecamatan Idi Tunong, 5 desa di Pante Bidari, 25 desa di Julok, 5 desa di Ranto Peureulak, 6 desa di Darul Falah, 1 desa di Peudawa, 4 desa di Banda Alam, dan 5 desa di Nurussalam.

Banjir yang terjadi sejak Sabtu lalu itu semula menggenangi sebelas kecamatan. Namun saat ini tiga kecamatan masih tergenang, yakni Kecamatan Julok, Simpang Ulim, dan Pante Bidari.

“Di tiga kecamatan ini, ketinggian air mencapai 1-2 meter dari permukaan tanah,” kata Safrizal Fauzi, Kepala BPBD Aceh Timur. Menurut dia, banjir terjadi akibat luapan Sungai Arakundo.[] Sumber: tempo.co