PRESIDEN Republik Indonesia Ir Soekarno, menyampaikan pidato politik tentang revolusi nasional di hadapan pejabat sipil dan militer, pejabat, tokoh masyarakat, dan pemuda Aceh, pada malam 15 Juni 1948 di Gedung Atjeh Bioskop, Kutaradja (Banda Aceh), Aceh. Berikut notulensi pidato Soekarno sebagaimana dimuat dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan.

Soekarno berkata: Imperium yang meliputi negeri Belanda, Indonesia, Hindia Barat sekarang mualai gugur. Malahan kalau kita gabungkan kejadian itu dengan kejadian seluruh dunia yang lain, dan kita mengerti apa yang terjadi di Indonesia ini hanyalah satu bagian saja dari pada kejadian di dunia yang besar itu. Maka kita lebih mengeri bahwa kita adalah berdiri di tengah-tengah suatu kejadian historis yang maha hebat.

Orang bekata, bahwa kita sekarang ini berada dalam revolusi nasional, dan saya hendak terangkan kepada saudara-saudara, bahwa perkataan nasional di sini harus diartikan kemerdekaan seluruh bangsa. Revolusi nasional adalah suatu revolusi yang bermaksud memerdekakan seluruh bangsa, bukan sekedar suatu daerah saja, tidak. Tetapi hendak memerdekakan seluruh bangsa Indonesia.

Kita di dalam revolusi ini harus mengerti tugas dan kewajiban kita, harus mengeri revolusi nasional adalah revolusi sosial ataupun revolusi yang lain-lain yang mempunyai tugas dan kewajiban sendiri-sendiri yang tidak sama dan mempunyai syarat sendiri-sendiri yang tidak sama pula. Sering orang mencampuradukkan dua hal ini. Sering orang lupa bahwa kita ini adalah di dalam fasenya, tingkatnya revolusi nasional, bahwa kita dalam revolusi nasional yaitu hendak memerdekakan seluruh bangsa, sejak dari Aceh sini sampai ke pulai Irian, sejak dari pulau Sangihe di utara Menado sampai ke pulau Sumba, seluruh kepulauan Indonesia, yang bukan berpuluh, tetapi ratusan dan ribuan.

Seluruh bangsa Indonesia yang bermilyun-milyun itu harus dimerdekakan. Itulah tujuan revolusi nasional. Orang yang tidak historish-denken hanya berpikir sedaerah kecil saja, lantas lupa bahwa tugas dan kewajiban revolusi nasional ialah memerdekakan seluruh bangsa. Kita ini sebagai bangsa mempunyai cita-cita. Kita adalah suatu bangsa yang 70 miliyun jumlahnya. Apakah cita-cita kebangsaan kita?

Cita-cita kebangsaan kita adalah supaya bangsa Indonesia ini yang 70 miliyun jumlahnya, seluruh kepulauan Indonesia, hidup sebagai suatu bangsa yang merdeka, diperintah oleh suatu pemerintahan sendiri yang merdeka, bernauang dibawah satu bendera sang merah putih yang merdeka. Itulah cita-cita nasional kita.

Bukan kita sekedar bercita-cita Aceh merdeka, Minangkabau merdeka, Jawa merdeka atau Batak Raya merdeka, atau Sunda merdeka, atau Kalimantan merdeka, bukan. Kita mempunyai cita-cita nasional, ialah agar supaya segenap bangsa Indonesia yang hidup tersebar diantara ribuan pulau-pulau ini, hidup merdeka sebagai suatu bangsa, di dalam satu negara, di bawah satu pemerintahan, bernaung di bawah satu bendera.

Revolusi untuk menyelesaikan cita-cita ini, itulah yang dinamakan revolusi nasional. dan revolusi nasional ini, sebagai sudah saya katakan berpuluh-puluh, berates-ratus kali, belum selesai.

Kita telah mempunyai Republik, benar. Tapi apakah cita-cita itu sekedar Republik sekarang ini? Republik kita yang dalam (perjanjian) Linggarjati hanyalah meliputi Jawa, Sumatera, Madura, yang sejak perang kolonial Belanda pada tanggal 21 Juli daerahnya menjadi lebih kecil lagi.

Sebagai saudara ketahui, dua pertiga hampir tanah Jawa diduduki oleh Belanda. Seperlima dari Sumatera diduduki oleh Belanda, pulau Madura diduduki oleh Belanda. Republik yang dulu Jawa, Sumatera, Madura, kini lebih kecil lagi. Apakah ini cita-cita nasional kita? Bukan, itu bukan. Kita punya cita-cita nasional ialah lebih besar dari pada itu.

Oleh karena itu saya selalu berkata, bahwa republik kita ini, walaupun sekarang menjadi kecil, tetap menjadi modal kita. Republik ini adalah modal segenap bangsa Indonesia untuk mencapai cita-cita nasional segenap bangsa Indonesia. Republik bukan hanya orang Jawa, atau orang Sumatera atau orang Madura, tidak. Republik diperjuangan oleh segenap bangsa Indonesia.[] Sumber:steemit.com/isnorman

Penulis: Iskandar Norman