Kemarin sore saya memenuhi ajakan owner donat labu ketela Getlatela, Nurzahidah, untuk nonton bareng film berjudul The Founder yang dibintangi Michael Keaton. Film ini berkisah tentang salesman bernama Ray Kroc yang akhirnya menjadi pemilik restoran cepat saji terkenal di dunia yaitu McDonald's. Padahal restoran ini awalnya dirintis oleh sepasang bersaudara yaitu Dick dan Mac McDonald.

Nonton bersama ini berlangsung di ruang tamu kecil di kost-kostan milik Astari Mulyana Putri, pemilik usaha Asta Galery yang memproduksi aneka selempang dan snack bucket untuk berbagai pagelaran. Tak ada popcorn yang menjadi simbol kudapan asyik nan renyah saat menonton film. Yang ada hanya gorengan dan minuman bandrek. Dua hidangan ini justru menjadi penghangat suasana.

Saat saya dan Nurzahidah tiba, sudah ada Putri Humairah. Ia adalah pemilik usaha dengan label 'Angel Wish' yang bergerak di bidang jasa penyewaan pakaian dan make up. Belakangan muncul Al Mukaramah yang juga punya usaha di bidang fashion, memproduksi hijab di bawah brand Ika Hijab.

Ada dua kunci sukses yang 'dititipkan' Ray Kroc kepada para penonton, khususnya mereka yang bergelut di bidang dunia wirausaha seperti Nurzahidah cs. Dua kunci itu adalah ketekunan dan tekad yang kuat. Tanpa dua hal yang dimiliki Ray Croc kita di Indonesia barangkali tak pernah mengenal McDonald's. Tanpa dua hal ini, usaha restoran cepat saji itu barangkali sampai sekarang masih dikelola dua bersaudara tadi.

Ketekunan dan tekad. Dua hal ini pula yang saya lihat ada dalam diri Nurzahidah dan teman-temannya. Sebuah sikap positif yang membuat mereka mampu mengelola usaha sendiri di usia yang masih sangat muda. Sikap yang mengantarkan mereka pada satu kata; mandiri!

Suatu sore, Nurzahidah mengundang saya dalam pertemuan komunitas yang ia gawangi yaitu Poe Rumoh. Komunitas ini ia dirikan bersama rekannya Nur Rahmi, untuk memayungi para perempuan yang memiliki ataupun belum memiliki usaha, namun mereka ingin berdikari sendiri. Saya ingat, waktu itu ada salah satu anggota yang berstatus ibu rumah tangga sedang galau, antara ingin resign dari bank tempatnya bekerja, dan fokus mengelola usaha sendiri di bidang tata rias wajah dan penyewaan pakaian pesta. Beberapa bulan kemudian saya kembali bertemu dengan ibu rumah tangga tersebut. Ia sudah tidak lagi bekerja di bank dan usaha yang dirintisnya mulai berkembang. Pada saat yang bersamaan ia bisa mengurus keluarganya sesuai yang ia idam-idamkan. “Saya lebih bahagia sekarang,” katanya ketika itu.

“Inilah yang menjadi semangat terbentuknya Poe Rumoh, kita ingin menjadi perempuan yang walaupun pusat aktivitas kita di rumah, namun bisa menebar manfaat dan memberi inspirasi bagi perempuan lainnya. Kami saling mendukung dan memotivasi,” kata Nurzahidah.

Perempuan sebagai inti dari kehidupan ini harus selalu bahagia dan dibahagiakan. Karena dari perempuan itulah sumber kebahagiaan bagi yang lainnya menyebar. Seorang perempuan ibarat pijar matahari. Yang selalu memercikkan cahaya dan kehangatan dalam segala kondisi. Maka biarkan mereka mandiri dengan caranya sendiri.[]