BANDA ACEH – Pimpinan Dayah Mini Rukoh Darussalam, Tgk. H. Umar Rafsanjani, Lc., M.A., mengatakan, kepemimpinan adalah salah satu aspek yang dianggap sangat penting dalam Islam. Ini bisa dilihat dari begitu banyaknya ayat dan hadis Nabi Muhammad s.a.w., yang membahas tentang ini.
“Hal ini bisa dimengerti. Karena pemimpin merupakan salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan suatu masyarakat,” kata Tgk. Umar Rafsanjani saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu, 20 Juli 2016, malam.
Selain Umar, juga hadir pemateri lainnya, Tgk. H. Raji Rafsanjani, Lc., M.A., alumni Tunisia.
Menurut Umar, memilih pemimpin itu merupakan salah satu persoalan yang dipandang sangat penting dalam pandangan Islam. Karena memilih pemimpin itu tidak hanya mencakup dimensi kesejahteraan duniawi, lebih dari itu juga memiliki dimensi ukhrawi yang menyelamatkan agama dan iman rakyatnya.
“Karenanya, dalam memilih dan menentukan tidak selayaknya seorang muslim sembarangan dan masih menggunakan dasar dan acuan lain, selain yang telah jelas dan tegas disebutkan dalam kitab sucinya Alquran, jika mereka benar-benar mengaku orang yang beriman,” ujar Umar.
Menyangkut dengan tingkatan pemimpin, Umar juga menyebutkan Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. Seorang Presiden, Gubernur, Bupati/Wali Kota, dan Geuchik adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.
“Tidak mudah jadi pemimpin dan akan ditanya semua yang dipimpinnya. Kita semua akan ditanya oleh Allah s.w.t., jika pemimpin membiarkan rakyatnya dalam kemaksiatan, tidak melakukan amar makruf nahi mungkar. Apalagi jika melihat kondisi pemimpin akhir zaman saat ini yang tidak merasa bersalah dan bangga dengan berbagai kemungkaran dan mengerjakan larangan Allah,” ungkap Umar.
Menyangkut kondisi pemimpin akhir zaman, Umar menyampaikan bahwa Rasulullah SAW mengingatkan kita semua, “Akan datang suatu masa pada umatku pada suatu masa tahun-tahun penuh tipu daya yaitu orang berdusta dibenarkan, orang yang benar didustakan, pengkhianat diberikan amanah sebagai pemimpin, orang yang amanah dan jujur itu dikhianati, kemudian masa-masa itu akan tampil Ruwaibizah, yang laki-laki yang tidak paham/ahli suatu urusan, lalu sudah memegang urusan umum yang bukan ahlinya.”
“Jika melihat sekarang, sudah sampai zaman yang disampaikan oleh Rasulullah. Terhadap kondisi zaman seperti itu, kita harus selalu berpegang teguh pada syariat yang diajarkan Rasulullah,” ujar Umar yang juga Ketua Bidang Pendidikan dan Kajian Keislaman KWPSI.
Umar menambahkan, zaman-zaman ini banyak di antara umat yang berbangga dengan dosa?-dosa di depan umum dan yang salah dianggap benar.
“Contohnya, banyak anak-anak muda yang bangga dengan maksiat terang-terangan seperti muda-mudi bukan muhrim berboncengan sambil peluk-pelukan secara bebas di tempat umum terbuka di atas kendaraannya tanpa merasa bersalah. Inilah ketika yang banyak salah dianggap benar,” jelasnya.
Sementara Raji Rafsanjani menyebutkan, dosa besar pemimpin yang membiarkan rakyatnya dalam dosa dan kemaksiatan, termasuk jika tidak bisa memberikan jaminan makanan yang halal dan baik kepada rakyatnya.
“Perilaku seseorang itu tergantung apa yang dia makan sehari-hari. Pemimpin itu wajib mengatur makanan agar tidak bermasalah dengan perilaku yang menyimpang syariat. Menjaga makanan itu setengah iman, sama kewajibannya seperti kita menjaga salat lima waktu sehari semalam,” ungkapnya.
Menurut Raji, makanan yang tidak halal dan baik karena kelalaian pemimpin yang tidak mampu mengaturnya, adalah sumber semua persoalan umat Islam hari ini yang menyebabkan semua ibadah yang dikerjakan tidak berarti apa-apa karena tidak adanya keridhaan Allah s.w.t. Karena makanan yang tidak halal adalah sumber kegelapan hati.
“Ini tugas pemimpin, selain memberikan kesejahteraan secara ekonomi kepada rakyatnya, juga ilmu pengetahuan serta penyediaan lapangan kerja rakyatnya tidak menganggur tanpa ada lapangan pekerjaan,” ujar Raji.
Raji menambahkan, tantangan di Aceh saat ini adalah sedikitnya sarjana yang bekerja, banyak lulusan SD dan SMP yang bekerja, sementara lulus sarjana menunggu peluang kerja.[] (*/idg)

