BIREUEN – Dukungan resmi dari DPW Partai Keadilan Sejahtera kepada Muzakir Manaf untuk menjadi gubernur periode 2017-2022 merupakan langkah cerdas dalam memanfaatkan momentum. Ketika partai nasional lain belum bersikap, PKS menjadi pioner dalam mendukung Mualem–sapaan akrab Muzakir Manaf.
Demikian disampaikan Pengamat Politik dan Keamanan Aceh, Aryos Nivada, M.A, melalui rilis kepada portalsatu.com, Jumat, 20 Mei 2016. Dia mengaku telah lama memprediksikan dukungan PKS secara kepartaian.
“Apalagi selama ini publik mengetahui bahwa posisi PKS selalu berada di kubunya Mualem atau Partai Aceh, sehingga tidak kaget dengan keputusan mendukung Mualem,” ujarnya.
Peneliti Jaringan Survei Inisiatif ini mengatakan, dukungan PKS tersebut tidak memberikan keuntungan signifikan kepada Mualem. Terlebih basis PKS tidak begitu besar yang terlihat dari perolehan kursi di DPRA dengan hanya 4 kursi. “Tetapi daya militansi dari kader PKS dapat menjadi tambahan energi memenangkan Mualem menjadi gubernur mendatang. Apalagi suara kader PKS sangat solid dalam mengarahkan dukungan, ketika instruksi partai mendukung salah satu kandidat,” katanya.
Dia mengatakan, untuk strategi branding dan menggunakan issue dalam strategi politik, PKS sangat berbeda dibandingkan dengan partai lain. Hal ini dikarenakan bahasa dan cara mengorganizer media dan issue sangat lihai dan kreatif.
“PKS memiliki kelebihan dalam hal penguasaan IT dan memanfaatkan sosial media dalam mengelola issue. Mereka memiliki cyber army dalam dunia media sosial,” kata alumni Megister Politik dan Pemerintah UGM ini.
Namun Aryos menyebutkan, dukungan PKS ke Mualem harus memiliki konsensus atau kesepakatan, agar tidak tertipu dengan janji politik Partai Aceh. “Ujung-ujungnya PKS tidak mendapatkan apa pun pasca terpilihnya Mualem jadi gubernur nantinya. Tidak menutup kemungkinan Mualem mengusung kader PKS menjadi wakil gubernur, seperti Nasir Djamil, Raihan Iskandar, dan lain-lain,” katanya.
Penulis Buku Wajah Politik dan Keamanan Aceh ini juga menilai ideologi dan visi maupun misi dari PKS dengan Partai Aceh sangat berbeda sekali. Hal inilah yang memperlihatkan muatan kepentingan politik PKS daripada menggunakan basis standar ideologi dan visi misi. “Berarti PKS sudah melenceng dalam membangun sinergisasi ideologi dan visi dan misi,” katanya.
Di sisi lain, kata dia, dari track record PKS mendukung dan mengajukan kadernya pada pesta demokrasi di Pilkada selalu berujung kalah, misalkan tahun 2006 mendukung kadernya sendiri bersama PAN kalah, tahun 2012 mendukung Irwandi Yusuf pun kalah, apakah ketika mendukung Muzakir Manaf akan kalah juga?
Keburukan PKS dalam mendukung kadidat gubernur terlihat publik selalu memasang dua kaki. Dibuktikan ketika Pilkada 2012, walaupun sudah mendukung Irwandi Yusuf secara kepartaian tetapi publik mengetahui masih ada elit dan kader PKS yang mendukung Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf.
“Ini harus diwaspadai Partai Aceh dalam membangun relasi dengan PKS. Mungkin saja strategi cadangan dari PKS dalam mengambil posisi aman di pentas politik Aceh. Apakah pada Pilkada 2017 akan mengulangi hal serupa? Ketika posisi Mualem semakin terjepit dan melemah dari segi dukungan rakyat terhadap dirinya,” kata Aryos.[]




