MEDAN – Warga Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh kembali akan mengalami pemadaman bergilir hingga beberapa hari ke depan. Putusnya kabel akibat kebakaran yang terjadi pada Minggu (17/1) malam membuat lima unit pembangkit rusak.

Diketahui akibat kebakaran yang terjadi pada PT Canang Indah, perusahaan mebel yang terletak di antara tower 3 dan 4, kabel saluran udara tegangan tinggi (SUTT) Belawan-Binjai terputus. Bahkan, kejadian itu menimbulkan kerusakan pada lima unit pembangkit karena menerima beban besar secara tiba-tiba.

“Karena kabel pada jaringan putus, otomatis beban secara tiba-tiba kembali ke pembangkit. Namun, ternyata itu menimbulkan dampak kerusakan lain. Akibatnya, sekarang Sumut dan Aceh justru mengalami defisit,” kata Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah Sumut Mustafrizal kemarin.

Menurut dia, defisit tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Sumut, tetapi juga Aceh. Rinciannya sebanyak 148 MW di Sumut dan 25 MW di Aceh. Dengan defisit sebesar itu, pihaknya memperkirakan pemadaman akan terjadi selama satu atau dua jam. “Kalau di bawah 200 MW (defisitnya), kami perkirakan padam hanya satu jam atau paling lama dua jam. Diupayakan penyelesaiannya cepat hanya dua hari, jadi pemadaman bergilir tidak akan berkepanjangan,” ucapnya.

Dia menambahkan, kerusakan cukup parah terjadi pada PLTU Unit 3 dan 4 yang ada di Belawan. Pada dua unit itu terjadi kebocoran boiler, sehingga butuh waktu cukup lama untuk memperbaikinya. Selain itu, GT 2.1 dan 2.2 Blok 2 Belawan, PLTG Lot 3 Belawan, PLTU 1 dan 2 Pangkalan Susu, PLTU Unit 1 dan 2 Nagan Raya, serta PLTA Sipan dan Renun juga mengalami kerusakan yang sedang proses pemulihan.

“Kerusakan pada empat unit pembangkit itu sebenarnya tidak terlalu parah dan sejak tadi malam (Minggu, 17/1) sudah mulai pemulihan. Diharapkan daya listriknya bisa segera masuk sistem kembali. Yang parah hanya pada PLTU Unit 3 dan 4 karena sampai sekarang masih terus dicari masalah utamanya. Setelah diketahui apa masalahnya, baru kemudian bisa diperbaiki,” paparnya.

Mengenai Sumut mendapat suplai dari pembangkit lain, Mustaf mengakui itu. Menurutnya, ada dua pembangkit yang membantu pasokan listrik saat ini, yakni dari PT Inalum sebesar 90 MW dan suplai listrik dari Palembang, Sumatera Selatan sebesar 75 MW. “Suplai dari kedua pembangkit itu membuat defisit listrik hanya 148 MW untuk Sumut dan 25 MW saat ini,” jelasnya.

Pengusaha Rugi Puluhan Miliar Rupiah

Sementara itu, sejumlah pengusaha menilai PLN telah melakukan pembohongan publik dan membuat pengusaha rugi besar. “Dikatakan membohongi publik karena pertama, kabel yang putus kenapa jadi berimbas ke pembangkit? Kedua, kalau memang pembangkit rusak bukankah disebutkan kita sudah punya cadangan daya, kenapa bisa ada pemadaman bergilir lagi?” kata Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut Laksamana Adyaksa kemarin.

Menurut dia, PLN cukup memperbaiki saja kabel yang putus itu tanpa mengadangada dan membuat alasan ada kerusakan pada pembangkit lagi. Pasalnya, kondisi seperti ini benar-benar tidak baik untuk perekonomian di daerah. “Kalau kejadian pada Minggu malam itu tidak begitu berdampak terhadap bisnis karena hari itu libur, dan kebetulan terjadi pada malam hari saat aktivitas pabrik sedikit. Tapi kalau terus berlanjut dengan pemadaman bergilir, sudah jelas akan mengakibatkan kerugian besar pada dunia bisnis,” katanya.

Sebelumnya, pengusaha sudah cukup tenang dengan pernyataan PLN yang menyebutkan bahwa Sumut cadangan daya dan pasokan listrik akan bertambah lagi seiring penambahan pembangkit oleh PLN Pusat. “Tapi baru saja awal tahun, PLN sudah melakukan teror lagi kepada pengusaha dengan melakukan pemadaman bergilir. Pengusaha sangat tidak mengharapkan kondisi seperti ini,” tegasnya.

Wakil Ketua Apindo Sumut Bidang Organisasi Johan Brien menambahkan, para pengusaha jelas akan mengalami kerugian sangat besar dengan pemadaman bergilir tersebut. Jika dikalkulasi secara keseluruhan di Sumut bahkan beberapa daerah di Aceh, kerugiannya bisa mencapai puluhan miliar rupiah. “Dampak mati listrik ini sangat besar. Pastinya perusahaan merugi, apalagi ini matinya tiba-tiba. Mesin bisa rusak, produktivitas terhambat, bahkan bahan yang sedang diproses produksinya bisa rusak. Kalau dihitung-hitung, kerugian ini besar bisa sampai puluhan miliar rupiah,” jelasnya.

Dikatakannya, PLN seharusnya bisa mengatasi persoalan ini dengan cepat. Salah satunya, perusahaan pelat merah itu bisa memperbaiki apa yang menjadi masalah utama pembangkit.

“Seharusnya kerusakan cepat diantisipasi. Persoalannya hanya kabel Belawan-Binjai yang putus, kenapa sampai memadamkan seluruh wi-layah sampai Aceh? Kecuali kalau pembangkit yang meledak, mungkin kami akan maklumi terjadinya pemadaman,” pungkasnya.[] Sumber: koran-sindo.com