BANDA ACEH – Malang benar nasib Ikhsan. Dia harus merogoh kocek sebanyak Rp 1,5 juta hanya karena Palang Merah Indonesia Banda Aceh salah dalam mendiagnosis. Ikhsan dinyatakan PMI mengidap hepatitis C.

Cerita tersebut bermula pertengahan 2015 lalu. Ikhsan yang gemar mendonorkan darah tiba-tiba tak bisa melakukan rutinitas tersebut, karena divonis mengidap hepatitis C.

“Saya rutin donor darah dan ke PMI. Waktu itu mau donor yang ketiga, eh nggak bisa lagi katanya saya mengidap hepatitis C,” kata Ikhsan saat ditemui portalsatu.com, di Darusalam, Banda Aceh, 29 Juni 2016.

Diagnosis tersebut membuat Ikhsan merugi, baik dari segi psikis ataupun materi. “Saya nggak enak hati waktu itu. Masak tiba-tiba saya dibilang mengidap hepatitis. Saya susah dan agak gundah memang,” kata Ikhsan.

Hepatitis C adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang hati. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat memicu infeksi dan inflamasi pada hati.

Hepatitis C umumnya memang tidak menunjukkan gejala pada tahap-tahap awal. Karena itu, sekitar 75 persen penderita hepatitis C tidak menyadari dirinya sudah tertular sampai akhirnya mengalami kerusakan hati bertahun-tahun kemudian.

Akan tetapi Ikhsan belum bisa menerima diagnosis tersebut. Dia pun mulai mencari alternatif lain untuk memastikan informasi yang diterima dengan memeriksa kembali kesehatannya, apakah benar ia mengidap hepatitis C atau tidak.

“Nah, karena perasaan saya terus dihantui penyakit itu, saya periksa ke Prodia. Nah, di situlah saya terkejut saat pihak Prodia bilang bahwa saya sehat-sehat saja,” kata Ikhsan sembari memperlihatkan dokumen medical chek up-nya kepada portalsatu.com.

Karena pemeriksaan tersebut, Ikhsan harus membayar biaya sebesar Rp 1,5 juta. Dalam hal ini ia menyesalkan kesalahan diagnosis PMI.

“Terpaksa bayar satu setengah juta lebih,” kata Ikhsan.

Ternyata tak berhenti di sana, akibat kegundahan dan keresahan hati, Ikhsan pun kembali memeriksa kesehatannya di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh. Lagi-lagi pihak rumah sakit mengatakan Ikhsan sehat dan normal.

“Kalau di Meuraxa pakai BPJS dan hasilnya sama. Mereka menyatakan kalau saya normal dan sehat,” ucapnya.

Ikhsan belum menyampaikan rasa keberatannya itu langsung ke PMI. Namun dia berharap kejadian yang menimpanya tak terulangi. Bagi dia, kesalahan diagnosis dapat berakibat buruk terutama bagi tervonis.

“Janganlah salah-salah gitu. Saya sempat nggak bisa tidur gara-gara dibilang kena hepatitis c. Udah rugi juga uang satu juta setengah,” kata Ikhsan.[](bna)