Oleh Taufik Sentana*
Di tengah riuh-rendah dan gempita pemilihan umum yang tak lama lagi digelar, seakan semua energi tercurah untuk dan demi politik. Secara awam dikenal bahwa politik adalah instrumen sosial yang dengannya kekuasaan direbut atau dipertahankan. Dalam pandangan etis (Islam khususnya), politik yang dinisbahkan dengan kata siyasah adalah upaya menggunakan kekuasaan untuk kepentingan profetik, kebaikan, maslahah dan implementasi kekhalifahan manusia di muka bumi, yaitu untuk memakmurkan dan menjamin distribusi keadilan demi perbaikan sosial.
Sebagian mungkin telah terkondisi bahwa politik merupakan sub ego diri yang penting. Walau secara praktik sederhana, politik juga bermakna sebagai upaya memengaruhi lingkungan untuk tujuan tertentu. Artinya, sangat sulit berlepas dari politik, apalagi dalam kaitan organisasi masyarakat dan negara, keputusan politik akan membias pada semua level struktur masyarakat, bahkan bisa memengaruhi struktur pikiran seseorang.
Citra buruk politik karena performa kerja tokoh-tokohnya, telah memunculkan antitesa tersendiri bahwa politik hanyalah kepentingan nisbi dan mungkin ilusi. Akan tetapi bagaimanapun, sebagai instrumen sosial, politik tidak bisa berjalan dengan logika yang timpang dan kita tidak bisa membiarkan politik menjadi panglima yang buruk (bila kita sepakat politik sebagai panglima).
Untuk itu, di tengah riuh-galau upaya berebut dukungan dan simpati, kita perlu memberi ruang bagi politik yang sederhana, politik yang berjalan sesuai fungsinya dan selalu bersinggungan dengan kepentingan umum. Maka sangat baik bila kita berkaca pada partai apa yang diyakini (bahkan telah) menunjukkan performa, niat baik dan pelayanan (khidmat) untuk masyarakat dengan rangkaian program yang rutin diselenggarakan dari waktu ke waktu.
Kita perlu performa politik yang sejajar dengan keawaman masyarakat, bukan politik yang semakin memperuncing jarak-sosial dan memunculkan kesombongan baru dengan mengabaikan hak-hak mereka yang telah mendukung.
Dan kita ingin ruang politik yang tidak memiskinkan, sebab (proses memiskinkan) ini akan melestarikan pemilih berbayar dan abai akan kepentingan yang lebih besar. Sikap ini pun dapat merusak struktur masyrakat dan ongkos sosialnya akan semakin mahal.[]
*Taufik Sentana
Peminat kajian sosial-budaya. Bergiat di Bina Potensi Ummat. Menetap di Aceh Barat.



