SIMEULUE – Mahyuddin (55), warga Desa Air Pinang, Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue, meninggal dunia akibat tertimbun material batu gunung Sibao, yang menjadi lokasi galian dilakukan secara tradisional, Jumat, 13 Desember 2019.

Asmanja, Kepala Desa Air Pinang, mengatakan kejadian tersebut berawal saat Mahyuddin menggali batu gunung itu ditemani Khairul (22), anak kandungnya. Sekitar pukul 11:00 WIB (Jumat), Mahyuddin menyuruh anaknya pulang duluan ke rumah. Namun hingga selesai shalat Jumat, Mahyuddin tidak kunjung pulang. Pihak keluarganya kemudian mencari Mahyuddin ke lokasi itu.

Menurut Asmanja, di lokasi itu korban ditemukan dalam kondisi hanya kaki terlihat di permukaan timbunan batu yang diduga akibat longsor. Sedangkan pinggang hingga kepala Mahyuddin tidak terlihat karena tertimbun. Sekitar pukul 15:00 WIB, sejumlah warga berhasil mengevakuasi korban dari lokasi kejadian.

“Lokasi penggalian batu tangga besi gunung Sibao itu sudah banyak menelan korban jiwa. Dalam catatan saya ada empat kasus yang meninggal dunia. Sudah berulang kali kami melarang dan mengimbau supaya tidak ada lagi warga yang menggali batu di daerah itu, namun masih tidak didengar,” kata Asmanja kepada portalsatu.com.

Ali Muhayatsyah, Camat Simeulue Timur, juga membenarkan Mahyuddin meninggal dunia akibat tertimbun di lokasi galian batu gunung itu. “Benar, ada warga kita yang ditemukan meninggal dunia, tertimpa dan tertimbun material batu di daerah tangga besi gunung Sibao. Atas permintaan keluarga, korban tidak divisum dan (jasadnya) dimakamkan hari ini (Jumat),” katanya.

Diketahui Mahyuddin telah lama bekerja sebagai penggali material batu lereng Gunung Sibao untuk dijual kepada penampung dengan harga persatu kubik Rp100.000. Sehingga banyak warga tergiur pekerjaan itu dengan risiko sewaktu-waktu berpotensi tertimbun longsoran.

Ali Hasmi, Kepala BPBD Simeulue, kepada portalsatu.com, mengatakan pihaknya segera memasang rambu-rambu larangan di gunung tersebut untuk mencegah terulangnya kejadian yang tidak diinginkan. 

“Lokasi kejadian itu di lereng gunung dengan ketinggian lebih 40 meter serta kemiringan 90 derajat,” ujar Ali Hasmi.[]

Penulis: Egar Shabara