SUBULUSSALAM – Darma Simamora, 48 tahun, penduduk Kampung Penanggalan Timur, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam harus bertahan hidup melawan penyakit usus buntu yang ia derita sejak Oktober 2016 lalu.

Herlina Berutu istri Darma Simamora kepada portalsatu.com, Sabtu, 29 April 2017, mengatakan, penyakit usus buntu tersebut diketahui ketika ia membawa suaminya berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Subulussalam. Namun, dokter menyarankan agar pasien dirujuk ke Medan, Sumatera Utara lantaran pihak rumah sakit tersebut belum mampu menangani.

“Awalnya kami bawa ke rumah sakit Subulussalam, kata dokter ini penyakit usus buntu, disarankan supaya dirujuk ke rumah sakit di Medan,” kata Herlina.

Akhirnya pihak keluarga membawa Darma Simamora berobat ke Rumah Sakit Sari Mutiara, Medan pada Januari 2017 lalu untuk dilakukan operasi.

Namun, pascaoperasi tersebut, suaminya mengeluh kesakitan, bahkan tidak bisa tidur baik siang maupun malam, sehingga kondisi badannya semakin kurus.

Herlina mengatakan dari jahitan bekas operasi perut Darma Simamora setiap saat mengeluarkan nanah. Makanan yang ia konsumsi juga keluar dari bekas jahitan tersebut.

Melihat kondisi tersebut, pihak keluarga kembali membawa Darma ke Medan dengan maksud agar mendapat perawatan lanjutan. Sebab, kata Herlina, perut Darma Simamora mengeluarkan nanah. Namun, ia tidak mendapat penanganan medis karena kondisi Darma sangat lemah. Setelah empat hari di sana, akhirnya pihak keluarga membawa Darma kembali pulang ke Subulussalam.

Kini, Darma Simamora hanya pasrah dengan kondisi penyakit ia alami, apalagi kondisi ekonomi mereka sangat memprihatinkan. Sehari-hari ia menghabiskan waktu duduk di kursi plastik nyaris tanpa busana, hanya ditutup sedikit pakaian di bagian kemaluannya.

Pria lima anak ini tinggal di rumah berkonstruksi kayu berukuran 5×7. Istri dan anak-anaknya sehari-hari menemani Darma Simamora untuk bertahan hidup melawan penyakit ia derita. Konon lagi kondisi perutnya setiap saat mengeluarkan nanah membuat fisik Darma Simamora semakin lemah.

Keluarga miskin ini berharap bantuan dan uluran tangan kaum dermawan untuk membantu biaya pengobatan Darma Simamora. Pasalnya, biaya berobat sebelumnya ke Medan juga berkat bantuan dan sumbangan warga sekitar.

“Kami tidak punya uang untuk berobat, semoga ada orang peduli dan membantu pengobatan suami saya,” ujar Herlina.[]