SUBULUSSALAM – Produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Kota Subulussalam dan sekitarnya menurun dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, harga komoditas tanaman unggulan masyarakat itu mulai menunjukkan pergerakan ke arah positif.
Merosotnya produksi buah diduga akibat kebun petani tidak terawat dengan baik akibat harga TBS sebelumnya sangat murah. Kondisi ini berdampak terhadap ekonomi masyarakat menjadi lesu karena sumber mata pencarian mereka dari TBS tidak maksimal, selain harga yang belum stabil, produksi buah juga sedang merosot dari sebelumnya.
Saat ini harga TBS di tingkat petani mencapai Rp1.000 per kilogram naik dari sebelumnya Rp950 per kilogram pada dua pekan lalu. Sedangkan harga TBS di tingkat Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) mencapai Rp1.230 per kilogram.
Kenaikan harga TBS sebenarnya memberi angin segar pagi petani sawit di Bumi Syekh Hamzah Fansuri. Namun karena produksi buah yang masih merosot sehingga tidak begitu signifikan memberi perubahan terhadap kondisi ekonomi masyarakat di sana, khususnya petani sawit.
“Harga TBS sudah mulai naik tapi produk buah menurun sejak beberapa bulan terakhir,” kata agen pengumpul, Mujikran Manik kepada portalsatu.com, Rabu, 8 Juli 2020.
Menurutnya di saat kondisi buah lagi trek (menurun) TBS yang berhasil dikumpul dari petani hanya dapat satu mobil carry penuh dalam sehari untuk dibawa ke pabrik. Namun di saat produksi meningkat bisa mencapai empat atau lima kali angkut TBS ke pabrik.
“Sekarang dapat saja TBS penuh satu mobil satu hari udah syukur. Dulu bisa 4 atau 5 kali ke pabrik bawa TBS,” ucapnya.[]



