ANKARA – Negara Turki mendukung komentar Presiden Recep Tayyip Erdogan tentang krisis Al-Aqsa yang mengkritik Israel.
“Kami bangga dengan sejarah kami. Semua agama, bahkan sebelum era Ottoman, melakukan ibadah mereka dengan kebebasan penuh “di Tanah Suci,” kata juru bicara kepresidenan Turki, Prof Ibrahim Kalin, kepada saluran berita Haberturk, Kamis.
“Mereka yang mencoba menyerang sejarah kita, harus membacanya terlebih dahulu,” tambahnya.
Pada hari Selasa, Erdogan mengkritik tindakan keamanan Israel yang baru di Masjid Al-Aqsa, yang suci bagi umat Islam dan merupakan situs tersuci ketiga di dunia Islam.
Erdogan telah mendesak umat Islam untuk memainkan peran mereka dalam melindungi masjid di Yerusalem.
Pada hari yang sama juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon mengecam pernyataan Erdogan sebagai “delusional”.
“Hari-hari Kekaisaran Ottoman sudah berakhir,” kata Nahshon. “Ibu kota orang Yahudi adalah Yarussalem. Berbeda dengan masa lalu, ini adalah kota di mana pemerintah berkomitmen terhadap keamanan, kebebasan, kebebasan beribadah, dan menghormati hak semua minoritas.”
Tapi Kalin menanggapi bahwa isu seputar Al-Aqsa akan “menimbulkan ketegangan” tidak hanya antara Turki dan Israel, tapi juga semua negara di sekitarnya.
“[Israel] mengharapkan kita bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi di sana tidak realistis”.
Sistem anti-rudal Rusia
Kemarahan telah menyebar di Tepi Barat sejak pekan lalu ketika Israel memberlakukan tindakan pengamanan baru di Masjid Al-Aqsha setelah baku tembak mematikan.
Warga Palestina baru saja kembali ke masjid hari ini, ketika detektor logam baru, satu titik kunci pertengkaran, dikeluarkan.
Juga ditanya tentang Turki yang ingin membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia, Kalin mengatakan bahwa kesepakatan tersebut “hampir” disegel.
“Ada beberapa masalah tentang kesepakatan tersebut, namun garis besar itu selesai … Kami membangun sistem ini untuk menolak dan menghalangi serangan terhadap kami,” katanya.
Pejabat presiden Rusia Vladimir Kozhin mengatakan pada akhir Juni bahwa Moskow dan Ankara telah menyetujui pengiriman sistem seluler S-400 namun Kremlin tidak menyetujui pinjaman untuk kesepakatan tersebut.
Sistem S-400 diperkenalkan pada tahun 2007 dan dapat membawa tiga jenis rudal yang mampu menghancurkan target darat dan udara, termasuk rudal balistik dan jelajah.
Ini dapat melacak dan melibatkan hingga 300 target secara bersamaan dan memiliki langit-langit ketinggian 27 kilometer (17 mil).[]Sumber:aa.com.tr(Anadolu Agency)






