BANDA ACEH – Komunitas Titik Temu menyelenggarakan diskusi publik dengan tema “Proyek Strategis Nasional dan Indeks Daya Saing Aceh” di 3in1 Coffee Lampineung, Banda Aceh, 1 Maret 2019.
Hadir sebagai narasumber Dr. Amri, S.E., M.Si., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah (Unsyiah) yang juga Direktur Center for Public Policy and Development Studies (CPDS), Dr. Eddy Gunawan, M.Ec., dan Irham Fahmi, S.E., M.Si., keduanya juga dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah.
Berdasarkan Peraturan Presiden No. 58 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, diputuskan sebanyak 247 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menghabiskan dana Rp4.197 triliun.
Aceh sebagai daerah modal Indonesia memiliki sembilan proyek strategis nasional yang terdistribusi di beberapa kabupaten/kota. Di antaranya, jalan tol Banda Aceh-Sigli, jalan tol Binjai-Langsa, jalan tol Langsa-Lhokseumawe, jalan tol Lhokseumawe-Sigli, Bendungan Rukoh, Bendungan Tiro, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, Waduk Keureuto di Aceh Utara, dan Waduk Paya Guci di Aceh Barat.
Amri meminta pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota agar serius dalam menyelesaikan pembebasan lahan yang masuk dalam rencana kerja pembangunan tersebut.
“Satu hal yang sampai saat ini masih menjadi masalah dalam percepatan pembangunan proyek strategis nasional adalah persoalan pembebasan lahan. Saya melihat, bupati dan/atau wali kota belum secara serius ikut andil menyelesaikan permasalahan pembebasan lahan ini,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan dari seluruh masyarakat Aceh diperlukan untuk mempercepat realisasi pembangunan yang masuk kategori skala nasional ini.
“Kita berharap seluruh komponen masyarakat dari berbagai lini dan sektor perlu mendukung penuh demi terwujudnya proyek strategis nasional di Aceh ini demi terwujudkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.[](Jauhar/rilis)



