LHOKSEUMAWE – PT. Pupuk Iskandar Muda (PIM) merekrut karyawan diduga mengabaikan lingkungan sekitar pabrik. Saat ini PT. PIM sedang merekrut lulusan fakultas pertanian jurusan agroeteknologi, agribisnis, ilmu tanah, proteksi tanaman, teknik pertanian dan teknologi hasil pertanian.

Mantan Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Malikussaleh (IKA-UNIMAL), Terpiadi A. Majid, Jumat, 6 April 2018, mengatakan, jumlah personel yang dibutuhkan mencapai 30 orang dengan berbagai persyaratan. Di antaranya, IPK minimal 3 untuk universitas berakreditasi A dan 3.25 untuk universitas berakreditasi B dan/atau memiliki prestasi di lingkup universitas nasional/international.

Selain itu, kata Terpriadi, dipersyaratkan bagi pelamar lulusan perguruan tinggi negeri atau swasta dengan akreditasi institusi dan program studi memiliki akreditasi BAN-PT minimal B, serta berbagai syarat lain untuk kelengkapan adminstrasi pendaftaran. Perekrutan karyawan tersebut diketahui melalui surat Manager Pengembangan SDM PT. Pupuk Iskandar Muda, Muhammad Refi, Nomor 328/TK0101/1500 tanggal 27 Maret 2018. Perihal program rekrutmen dan seleksi tenaga Account Executive (AE) PT. PIM Tahun 2018, yang ditujukan kepada Kepala Career Development Centre (CDC) Universitas Syiah Kuala.

“Dalam surat tersebut PT. PIM meminta Universitas Syiah Kuala menyiapkan 30 orang lulusan terbaiknya dari Fakultas Pertanian dengan berbagai jurusan paling lambat tanggal 9 April 2018. Dengan cara rekrutment seperti itu, dapat dimaknai bahwa PT. PIM sedang 'bermain api' dengan masyarakat sekitar pabrik. PT. PIM sedang 'mengadu domba' perguruan tinggi yang ada di Aceh khususnya Universitas Syiah Kuala dengan Universitas Malikussaleh,” kata Terpiadi.

Menurutnya, pabrik pupuk PT. PIM berada dalam satu kecamatan dengan Universitas Malikussaleh yang juga memiliki lembaga CDC (Career Development Centre) dan berakreditasi.

“Kenapa PT. PIM harus bersikap seperti itu yang tidak menganggap keberadaan Universitas Malikussaleh yang kampusnya di samping pabrik pupuk PT.PIM. Padahal, banyak 'dosa' dan kesalahan PT. PIM yang telah berulang-ulang dilakukan. Di antaranya, setiap musim tanam padi terjadi kelangkaan pupuk untuk petani disebabkan PT. PIM lalai. Lalu setiap tahun ada bocor amoniak yang menyebabkan banyak masyarakat sekitar yang harus dirawat di rumah sakit. Selama ini PT. PIM juga mendapat gas murah dari ladang gas Aron di Aceh Utara. Lalu, apa kontribusi PT. PIM untuk Aceh Utara dan masyarakat sekitar pabrik,” kata Terpiadi mempertanyakan.

“Ini bukan mengancam. PT. PIM hukumnya wajib melibatkan Universitas Malikussaleh dalam setiap proses rekrutmen. Jika tidak, saya akan mengajak alumni, mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk berunjuk rasa ke PT. Pupuk Iskandar Muda dalam waktu dekat ini, dan juga akan meminta agar SKK Migas dan BPMA untuk tidak mengizinkan PT. PHE men-supply gas kepada PT. PIM dan upaya-upaya lain agar Universitas Malikussaleh tidak dizalimi,” kata Terpiadi.[] (rilis)