LHOKSEUMAWE – PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menggelar Simulasi Tanggap Darurat PT PIM Tahun 2019 di kompleks perusahaan itu, di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Jumat, 20 Desember 2019, pagi. PIM mengadakan simulasi tersebut bekerja sama dengan Tim BPBA, BPBD, BMKG, Muspika Dewantara yaitu Camat, Koramil dan Polsek, ORARI, RAPI, serta melibatkan masyarakat setempat.
Saat Apel Siaga Simulasi Tanggap Darurat itu, GM Produksi PT PIM, Joko Kirwanto, mengatakan ini merupakan hari bersejarah bagi PT Pupuk Iskandar Muda. Pasalnya, Sistem Manajemen Tanggap Darurat PT PIM akan diuji dengan dua jenis bencana yang digabungkan. Yaitu, bencana alam dan bencana industri serta diobservasi langsung oleh instansi pemerintah dan pihak eksternal terkait.
“Gempa Bumi, Tsunami dan Ammonia Release terjadi dalam waktu yang bersamaan bukanlah suatu yang mudah dalam penanggulangan dan pengendaliannya. Diperlukan suatu struktur organisasi kedaruratan yang sistematis, sarana dan fasilitas serta SOP yang jelas. Dan yang paling penting adalah personel terlatih,” ujarnya.
Joko Kirwanto menyebutkan, Simulasi Tanggap Darurat Tahun 2019 ini merupakan simulasi terbesar yang pernah PIM buat dengan melibatkan stake holder terkait. “Bukan tanpa maksud dan tujuan, melainkan sudah menjadi komitmen perusahaan dalam upaya mempersiapkan Emergency Response Plant yang lebih baik untuk meminimalisasikan dampak dan risiko dari suatu keadaan darurat bagi perusahaan dan juga masyarakat sekitar,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Produksi Teknik dan Pengembangan PT PIM, Pranowo Tri Nusantoro, saat memberikan pembekalan mengatakan PIM merupakan industri pupuk dan petrokimia yang diberi tanggung jawab oleh pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pupuk nasional, terutama di kawasan Indonesia bagian barat demi menjaga stabilitas pangan nasional.
“Dalam proses produksinya, bahan baku gas bumi diolah dan diproses sedemikian rupa untuk menghasilkan produk amonia dan urea. Tentunya ada faktor-faktor risiko pada setiap industri terutama industri pupuk dan petrokimia seperti PT PIM dalam melakukan proses produksinya,” ujar Pranowo Tri Nusantoro.
Namun, kata Pranowo, pabrik ini didesain dengan sistem mitigasi proteksi atau pengamanan berlapis-lapis (Multiple Layer of protection Mitigation). Sistem pengamanan terakhir dari desain proses ini adalah Emergency Response Plant dan Community Emergency Response. Kedua hal inilah yang diuji dalam simulasi tanggap darurat tersebut.
Dia mengajak seluruh kepala unit kerja menginstruksikan jajaran masing-masing agar ikut berpartisipasi dan terlibat aktif dalam kegiatan simulasi tanggap darurat ini. Karena salah satu indikasi keberhasilan kegiatan ini adalah keterlibatan semua pekerja.
Manager K3LH, Irdian, mengatakan pelaksanaan simulasi tanggap darurat ini kewajiban perusahaan berdasarkan regulasi pemerintah dan peraturan perusahan yang mewajibkan dilakukannya Simulasi Tanggap Darurat Perusahaan setiap tahunnya. Sekaligus untuk menguji sistem tanggap darurat perusahaan dan ketanggapan seluruh insan PT PIM dalam menyikapi situasi keadaan darurat.
“Tahun 2019 ini kami lakukan simulasi tanggap darurat (STD) dengan simulasi “Gempa Bumi, Tsunami & Gas Release” dengan tingkat darurat yaitu Darurat III. Event ini tidaklah mudah. Untuk itu kami mengundang pihak eksternal untuk dapat mensupervisi dan memberikan masukan kepada kami sekaligus membentuk suatu koordinasi yang baik dalam proses pengendalian dan penanggulangan keadaan darurat,” ujarnya.
Menurut Manager Humas, Nasrun, pelaksanaan simulasi tanggap darurat ini selain menguji kesiapan peralatan yang dimiliki PT PIM, kesigapan para personel dan kepedulian insan PT PIM dalam menyikapi keadaan darurat sebenarnya dengan melibatkan seluruh unit kerja. Sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar pabrik apabila terjadi kondisi darurat, seperti gempa bumi, tsunami dan paparan amoniak, sehingga masyarakat siap menghadapinya.
Berikut cuplikan skenario Simulasi Tanggap Darurat PT PIM tahun 2019:
Jumat, 20 Desember 2019, pabrik PT PIM dalam kondisi normal operasi. Pada jam 08.00 WIB, tiba-tiba terjadi gempa bumi berdurasi selama 60 detik. Getaran gempa bumi sangat kuat sehingga manusia tidak dapat berdiri dengan sempurna. Selanjutnya serine, megaphone/pluit dibunyikan sebagai tanda sedang terjadi gempa bumi. Seluruh pekerja segera mencari perlindungan baik di dalam maupun di luar ruangan, di lapangan terbuka, di bawah benda yang kokoh dan di tempat lainnya sesuai dengan rencana penyelamatan masing-masing dan tetap berada di sana hingga gempa berhenti sambil melindungi kepala.
Karyawan yang berada di dalam ruang kantor atau mushala/aula menyelamatkan diri dengan merunduk dan masuk ke bawah meja dan melindungi kepala dengan tangan dan getaran pada meja terasa sangat kuat, berpegangan pada kaki meja untuk menyelamatkan diri dengan teknik Segitiga Kehidupan atau teknik Serangga Pil.
Gempa dirasakan hampir semua orang. Pigura di dinding mulai berjatuhan. Beberapa korban berjatuhan akibat tertimpa benda dan terhirup bau amoniak yang dievakuasi ke RS Prima Inti Medika (PIM).
Tim Emergency perusahaan yang berada di setiap unit kerja dengan cekatan dan sigap mengamankan kondisi darurat sesuai prosedur yang berlaku, pihak keamanan pun berperan aktif mengamankan situasi darurat tersebut. Muspika Dewantara beserta masyarakat sekitar perusahan juga turut aktif saling membantu mengamankan kondisi tersebut.
Selanjutnya, GM Produksi meminta manager K3LH untuk menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), menanyakan informasi bahwa telah terjadi gempa bumi sehingga di daerah Aceh Utara merasakan gempa yang sangat kuat. Selain itu, menanyakan apakah ada kemungkinan terjadi Tsunami.[](rilis)






