Senin, Juni 24, 2024

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...
BerandaBerita AcehPT PIM Kembangkan...

PT PIM Kembangkan Lahan Industri di IMIA

ACEH UTARA – PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) melakukan pengembangan lahan industri di Iskandar Muda Industrial Area (IMIA) yang merupakan lahan eks-PT Asean Aceh Fertilizer (AAF). Aset itu diakuisisi PIM pada Desember 2018 untuk digunakan sebagai lahan pengembangan perusahaan dan komersialisasi bagi investor. Nama IMIA diresmikan saat HUT ke-38 PT PIM pada 24 Februari 2020.

Hal itu disampaikan Staf Dirut Bidang IMIA PT PIM, Saifuddin Noerdin, saat Halalbihalal bersama awak media di Harbour Cafe Kompleks IMIA, Krueng Geukueh, Aceh Utara, Selasa, 4 Juni 2024.

Saifuddin mengatakan IMIA dijadikan sebagai lahan pengembangan Kawasan Industri Hijau atau Green Industrial Cluster (GIC), sesuai hasil pada G20 di Bali pada Oktober 2022 lalu.

Menurut Saifuddin, lahan IMIA seluas 155 hektare. Lahan yang tersedia untuk pengembangan GIC di lahan industri 100 hektare dan letaknya sangat strategis dengan jalur perdagangan dunia, yaitu Selat Malaka dan Terusan KRA Thailand. Di tempat itu juga tersedia fasilitas pelabuhan eks-AAF.

“Lahan IMIA ini terletak dalam Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe, banyak kemudahan dan fasilitas yang dapat diberikan kepada calon investor potensial. Di antaranya, Tax Holiday dan Tax Allowance. Hal ini sesuai dengan Permen Keuangan Nomor: 237/PMK.010/2020 tentang Perlakuan Perpajakan, Kepabeanan dan Cukai pada Kawasan Ekonomi Khusus,” kata Saifuddin.

Saifuddin menyebut di lahan IMIA tersebut PIM akan mengelola pabrik H2O2 ekspabrik AAF secara internal. “Insya Allah akan berproduksi dalam beberapa bulan ke depan”.

“Kemudian, rencananya PIM akan membangun pabrik methanol dengan luas area 10 hektare dan pabrik blue ammonia dengan luas lahan yang dibutuhkan sekitar 6 hektare,” tambah Saifuddin.

Terkait pengembangan lahan IMIA itu juga telah ada MoU antara PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai induk perusahaan pupuk dengan perusahaan asal Jerman, yaitu Augustus Global Investment (AGI) yang rencananya akan membangun pabrik Green Hydrogen. AGI juga telah menyampaikan surat minat untuk lahan tersebut kepada PT PIM dan hal ini sedang dalam kajian PIM.

“Ada dua perusahaan yang telah menjalin kerja sama dengan PIM dalam penyewaan lahan di IMIA, yaitu PT Amanah Tamiang Perkasa (ATP) bergerak dalam bidang Cangkang Sawit untuk tujuan ekspor ke Asia dan Eropa. ATP menyewa lahan IMIA selama dua tahun. PT Global Terminal Services (GTS) telah melakukan sewa lahan dengan jangka waktu lima tahun yang bergerak dalam bidang Shorebase bekerja sama dengan Zaratex,” ungkap Saifuddin.

Selain itu, kata Saifuddin, ada beberapa calon investor nasional berminat menyewa lahan di IMIA, salah satunya Wood Chip. “Baru-baru ini ada juga satu perusahaan yang bergerak di bidang shorebase berminat menyewa lahan di IMIA seluas 7 hektare, namun ini baru penjajakan dan belum berkontrak dengan PIM,” ujarnya.

Adapun mekanisme sewa lahannya, kata Saifuddin, PIM mempunyai kewenangan dari pemegang saham yaitu PT Pupuk Indoensia (Persero) dengan kriteria: Jika nilai sewa Rp5 miliar dalam jangka tiga tahun, kewenangan Direksi PIM. Jika nilai sewa Rp5 M-15 M dan/atau 3–5 tahun, kewenangan Dewan Komisaris PIM. Jika nilai sewa Rp15 M dan/atau 5 tahun, kewenangan Pupuk Indonesia.

“Selain lahan industri di IMIA, masih ada lahan residensial atau lahan eks-Perumahan AAF dengan luas lahan 68 hektare. Lahan residensial ini rencananya akan dikomersilkan dan dibangun pertokoan di sepanjang jalan Medan-Banda Aceh, dan dibangun perumahan di dalamnya. Lahan tersebut dalam proses kajian konsultan nasional independen untuk pengembangannya,” pungkas Saifuddin.[]

Baca juga: