Puisi-puisi Taufik Sentana
Sepotong Malam di Perjalanan
Mobil merayap malam malam
melaju melambat atau berlomba cepat
seperti ingin menembus esok
seperti aku yang menebus pagi
seperti kawanan kelelawar.
Malam lembab hujan rintik
penat hinggap
kantuk menyisakan kisah
yang akan menjadi harap.
Mobil mobil melaju mesin berderu
kami menembus bukit bukit tinggi
membelah celah hutan
di langit ada bulan setengah.
Pas sepertiga malam
dengan selimut gelap
dan dingin yang ngilu
orang orang berduyun turun
membawa mata lelah dan pegal tubuh
ke tempat biasa penat dijulur sambil menyimpan rasa bosan:
Disini kami makan dan minum
memesan kopi, teh, martabak atau nasi sepinggan,
dan mie aceh jangan lewatkan.
Selepas itu
mobil mobil kembali bergerak satu satu
membelah celah hitam anak bukit barisan
seperti sebelumnya,
kami melaju untuk menebus esok
dan menanti pagi:
sedang rumah, kataku, bagian dari akhir perjalanan.
Hidangan Pagi
Pagi itu tasbih perindu
dalam gelegak qalbu yang baru,
tanpa itu makna mentari hanya
menu yang tersimpan di kulkas.
Bila ada yang engkau risaukan,
ialah malam yang tak sempat engkau sulam dengan benang rahasia untukNya.
Kini, di atas meja makanmu tersedia: pengertian, pengabdian dan sepiring waktu yang masih hangat.
Doa Bulan Agustus
Aku ingin menggambar hujan
yang berjatuhan satu satu
di sudut kampung kecil.
Hujan yang jatuh satu satu itu
mencumbui tanah tanah liar
Dari setiap halaman rumah
ikut merambat tumbuhan ramah
yang menebar kegembiraan.
Meulaboh, 2018.[]
Taufik Sentana, Guru dan penikmat puisi. Sedang merampungkan antologi Pass word Kebahagiaan.






