Karya: Taufik Sentana*

Ia sebuah tanya
dari ruang gelap
dan bilik ketidak-tahuan, 
dengan jendela alpa dan was was.

Lalu ia menjadi 
urutan bait
yang melompat, memanjat
dan menjelajah 
dari celah celah jiwa,
dari celah yang paling subtil
atau dari ranting ranting 
yang berdenyit nakal.

Ia, puisi itu menjadi wujudnya
dari wujud akal, peristiwa batin 
dan kotradiksi sosial.
Hingga mencapai klimaks makna baru
bagi penempuh yang baru pula.

Atau ia sedia semula
dalam sepi
hingga mungkin 
menjadi api yang lunak bagi Si Ibrahim.[]

*Peminat sastra sufistik