BLANGKEJEREN – Jalan lintas nasional yang menghubungkan Kabupaten Gayo Lues dengan Aceh Tenggara masih putus total pascabanjir dan tanah longsor. Puluhan titik badan jalan belum bisa dilalui kendaraan jenis apapun.

Warga Kecamatan Putri Betung, Muhammad Daud, Kamis, 4 Desember 2025, yang berjalan kaki ke Aceh Tenggara mencari BBM untuk alat berat, mengatakan kondisi jalan lintas nasional Gayo Lues-Aceh Tenggara sangat memprihatinkan. Selain banyak badan jalan tertimbun longsor, juga ada badan jalan hanyut.

“Jika ditotalkan, ada puluhan titik badan jalan yang longsor dan terputus yang belum tersentuh alat berat. Dari puluhan titik yang longsor itu, ada beberapa yang paling parah hingga harus dibuat jalan baru,” kata Daud.

Sejak terjadi banjir dan longsor di Gayo Lues, empat alat berat terus bekerja di jalan lintas nasional Gayo Lues-Aceh Tenggara. Ada alat berat yang bekerja dari pusat Blangkejeren, ada yang bekerja di Kecamatan Putri Betung, dan ada alat yang bekerja dari arah Aceh Tenggara menuju Gayo Lues.

“Jalan yang sudah bisa dilintasi kendaraan dari arah Medan ke Gayo Lues hanya bisa sampai Desa Lak-Lak. Di sana jalanya hanyut, harus berjalan kaki lewat perkebunan warga, dan alat berat sedang bekerja di sana membuat jalan baru,” ujarnya.

Jalan di Desa Seldok, Gurah Ketambe, Simpur, dan Desa Air Kelabu, Kabupaten Aceh Tenggara juga putus total. Setiap orang yang melintas harus berjalan kaki lewat perkebunan warga.

“Alat berat masih bekerja di Lak-Lak, sedangkan di titik lainnya masih belum ada alat berat yang bekerja,” kata Daud.

Sementara dari perbatasan Aceh Tenggara ke Gayo Lues (Umh Buner), jalan yang masih longsor dan hanyut ada di daerah Tangsaran, Atu, dan Sepit Pungke. Sedangkan jalan raya putus di Serkil sudah dibuat jalan baru menggunakan alat berat.

Bagi warga yang hendak melintas dari Aceh Tenggara ke Gayo Lues atau sebaliknya agar menunda sampai kendaraan bisa melintas, karena jika berjalan kaki membutuhkan waktu hingga berhari-hari.[]