ACEH UTARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Utara melalui Puskesmas Lhoksukon melakukan penandatanganan MoU bersama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lhoksukon. MoU itu terkait penanganan penyakit menular HIV, Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS), TB, skrining kesehatan jiwa, pemantauan kesehatan lingkungan dan pemeriksaaan ibu hamil di Lapas Lhoksukon, Kamis, 11 Januari 2024.
Penandatanganan MoU dilakukan Kepala Puskesmas Lhoksukon, Ibnu Khaldun, S.K.M., M.Si., bersama Plt. Kalapas Lhoksukon, Rusli, didampingi Pengelola Program HIV pada Puskesmas Lhoksukon, Ns. Susanti Lesiana Sari, S.Kep. Setelah itu, dilanjutkan tes skrining HIV diikuti 60 warga binaan (narapidana), yang dipandu sejumlah tenaga kesehatan.
Ibnu Khaldun mengatakan pihaknya memperpanjang MoU dengan Lapas Lhoksukon setahun sekali untuk kegiatan skrining HIV dan TB maupun penyakit lainnya. Tahun 2023, di Lhoksukon terdapat 16 kasus HIV, sehingga penting dilakukan skrining penyakit HIV dan infeksi menular seksual.
“Jika ada yang terindikasi penyakit itu, maka kita akan memberikan pelayanan selanjutnya atau pengobatan serta edukasi terhadap pasien. Skrining itu dilaksanakan dalam setahun empat kali,” kata Ibnu Khaldun kepada wartawan.
Plt. Kalapas Lhoksukon, Rusli, menyambut baik atas kerja sama dengan Puskesmas Lhoksukon terkait tes skrining HIV terhadap warga binaan di Lapas. Setiap dilakukan kegiatan
skrining, jumlah warga binaan yang mengikuti sesuai permintaan pihak Puskesmas.
Rusli menambahkan untuk awal tahun ini pemeriksaan kesehatan itu berjumlah 60 orang. Sedangkan jumlah warga binaan di Lapas saat ini sebanyak 332 orang.
“Apabila ada yang terjangkit, tentunya kita akan memindahkan mereka ke ruang isolasi dan dipisahkan ruangan dengan warga binaan lainnya, serta diberikan pelayanan kesehatan yang bekerja sama dengan Puskesmas Lhoksukon. Akhir 2023, ada 12 orang terindikasi penyakit TB dan sampai sekarang belum kita kumpulkan mereka bersama warga binaan lain, masih di kamar khusus C2,” ungkap Rusli.
Pengelola Program HIV pada Puskesmas Lhoksukon, Ns. Susanti Lesiana Sari, mengungkapkan hasil akhir dari serangkaian skrining itu terdapat satu orang reaktif sifilis.
“Penanganan selanjutnya kita lakukan pendampingan atau pengobatan, memberikan benzathine untuk mengatasi sifilis,” ujar Susanti.[](ril)




