MEMBUKA lembaran sejarah, sebagaian ahli makrifat menyebutkan bahwa bahwa Allah SWT telah membinasakan tujuh kaum yang kafir pada hari Rabu dengan tujuh macam azab, mereka itu adalah: pertama: Auj bin Unuq dibinasakan dengan burung Hudhud. Kedua: Qarun dibinasakan dengan dibenamkan ke dalam tanah. Ketiga: Fir’aun dan pasukannya dibinasakan dengan ditenggelamkan ke dalam sungai Nil. Keempat: Namrud dibinasakan dengan nyamuk. Kelima: Kaum Luth dibinasakan dengan batu. Keenam: Syidad bin Aad dibinasakan dengan suara jeritan Jibril as. Ketujuh: Kaum Aad dibinaskan dengan angin yang kencang.  

Sebagaimana telah disebutkan dalam literatur ulama bahwa Allah Ta’ala menurunkan bala pada tiap-tiap tahun sebanyak 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) bala. Jelaslah dari pemhasan di atas bahwa hari Rabu adalah hari nahas, terutama pada hari Rabu di akhir bulan Safar. Sebagian ulama mengakui turunnya bala ke dunia ini besar-besaran pada akhir bulan Safar.

Melihat fenomena tersebut dituntut kepada kita untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT di setiap waktu tidak terkecuali pada bulan Safar bilkhususnya Rabu terakir bulan Safar itu sendiri. Eksistensi ibadah ini pula jangan sampai dijadikan media perselisihan sehingga timbul pertentangan di kalangan internal masyarakat muslim, justru amalan ini kita dijadikan sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT serta sebuah sarana agar dapat berlindung kepada-Nya dari segala macam bencana dan mara bahaya yang akan menimpanya.

Al-Quran dan Hadist Berbicara Bahaya Safar

Allah SWT telah memperingatkan kita dengan firman-Nya:  “Carilah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat” (QS. Al-Baqarah: 45). Ayat di atas diperkuat dengan sunnah Rasulullah saw, disebutkan dari Hudzaifah ra berkata: “Apabila Rasulullah saw menemui suatu kesulitan, maka beliau segera menunaikan shalat” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Terlebih apalagi semua salat –baik salat wajib maupun salat sunnah– merupakan sebuah ibadah yang ditekankan untuk dilakukan oleh setiap muslim. Keutamaan dan kelebihan shaat tidak sedikit hadits dan ayat mengupas kelebihannya. Salah satunya dalam sabda rasulullah saw, bunyinya:  Shalat adalah sebaik-baik amal yang ditetapkan (Allah untuk hamba-Nya)”

Sebuah tradisi yang sering terjadi dalam masyarakat kita setelah pelaksanaan ibadah ini dilakukan jamuan makan sebagai sedekah. Inipun juga dianjurkan oleh Nabi saw dalam sabda beliau: “Segeralah bershadaqah, sebab bala bencana tidak akan melangkahinya” (HR. Thabrani). Rabu sebagai hari nahas, sekulumit kita mengkaji hari Rabu terakhir Safar ini dalam pandangan agama. Dalam al-quran disebutkan dalam surat al-Qamar ayat 19 : “Sesungguhnya kami telah menghembuskan kepada mereka angin sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus”. (Q.S. Al-Qamar : 19).

Mengenai hari yang dimaksudkan dalam ayat di atas, berdasar dalil yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a, ia berkata : “Rasulullah saw telah ditanya tentang hari Rabu. Lalu Beliau menjawab : “Hari Rabu adalah hari nahas yang terus menerus”. Mereka bertanya : “Kenapa bisa demikian, ya Rasulullah ?” Rasulullah menjawab : “Karena pada hari itu Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, memusnahkan kaum Aad dan Tsamud, yaitu kaum Nabi Shaleh”.

Ilustrasi Bala dan Musibah

Kelompok ulama salafatussaleh lebih detail mengatakan bahwa setelah tanggal satu Muharam (tahun baru Islam), seluruh catatan dan amaliah manusia baik maupun buruk diangkat ke langit dan diperhitungkan dengan seksama. Amal yang baik dinaikkan ke langit dan ada kalanya diturunkan di bumi, sedangkan amal-amal jelek/buruk serta dosa-dosa manusia diturunkan kembali ke bumi, dibuang ke laut (ada yang mengatakan menjadi buaya-buaya dan binatang-binatang laut lainnya). 

Tetapi lautan yang begitu luas tidak menampung banyaknya dosa-dosa tersebut, yang akhirnya meluber kedaratan menjadi berbagai penyakit, musibah, bala dan bencana. Hal ini terjadi secara serempak dan total pada hari Rabu di akhir bulan Safar.

Allah itu Maha Adil, sebagai pertimbangannya ada yang dinamakan rahmat, barakah, ada yang dinamakan hidayah, semua ini diturunkan pada waktu-waktu tertentu pula. Seperti pada bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Dzulhijjah dan Muharram. Jelaslah bahwa Sang Khalik telah mengatur hukum keseimbangan yang sangat sempurna antara yang baik dan buruk dengan perbandingan 1 : 10, seperti yang dijelaskan di hadist bahwa kebaikan yang satu dibalas dengan sepuluh sedangkan kejahatan 1 dibalas satu.

Tentulah perbandingan ini sebenarnya telah menunjukkan sifat Rahman dan Rahimnya Allah Ta’ala kepada kita sebagai makhluk-Nya. Tetapi manusianya sendirilah yang tak mau berfikir dan bersyukur dalam perjalanan hidupnya. Sehingga walaupun telah didispensasi seperti itu, tetap saja manusia banyak kesalahan dan dosa yang dilakukan. Lebih jelasnya dalam setahun Allah Ta’ala menurunkan kebaikkan dan keburukan dibagi dalam bulan-bulan tertentu yang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri, antara lain: bulan Rajab kelebihannya ada pahala puasa sunnah dan istighfar Rajab. Kejadian pada waktu itu adalah Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW.

Sementara bulan Sya’ban terkenal dengan Nisyfu Sya’ban. Bulan Ramadan dengan puasa wajibnya dan terkenal dengan malam Lalilatul Qadarnya. Bulan Dzulhijjah terkenal dengan haji dan puasa sembilan hari pertamanya, terutama Hari Arafah dan Hari Tarwiyahnya.

Bulan Muharram terkenal dengan doa akhir dan awal tahunnya serta hari Asyuranya. Kemudian sebagai perimbangannya dalam setahun itu diturunkan sekaligus keburukan (bala’, bencana, penyakit dan wabah) di akhir bulan Safar. Beranjak dari itu doa dan amaliah positif sangat penting dalam menghilangkan dan menolak segala bencana dan musibah dalam setiap kesempatan dan waktu terlebih di bulan Safar ini.[]