Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaNewsRagam Makanan dan...

Ragam Makanan dan Tradisi di Thailand Ini Punya Kesamaan dengan Aceh

PENGAJAR Bahasa Melayu asal Aceh di Thailand, Maulidia Adindia, mengatakan dari segi budaya banyak persamaan antara Aceh dengan Thailand, khususnya di Thaland Selatan di wilayah Pattani.

“Misalanya kalau dalam bulan maulid seperti ini, di sini maulid dalam satu kampung tidak dilakukan secara serentak. Tetapi masing-masing bisa mengadakan maulid pada hari yang d inginkan. Bisa maulid pagi, siang, petang, bahkan selepas isya,” kata Maulidia Adinda, kepada portalsatu.com melalui layanan BBM, Selasa, 12 Januari 2015.

Kemudian, kata perempuan yang akrab disapa Lidya ini, setiap yang mengadakan maulid pasti mengundang anak-anak dari pondok pesantren untuk melakukan Barzanji. Dan tidak lupa tuan rumah membagikan untuk anak- anak tersebut sejumlah uang mulai dari 5 bath sampai 20 bath. Jika dirupiahkan, 1 Bath senilai 350 Rupiah.

“Hidangan maulid juga beragam, ada yang menjamu nasi dan lauk saja, kemudian ada yang menjamu dengan pulot (nasi ketan campur buah labu yang dimasak dengan gula aren) dan ada juga yang menyajikan laksa (mie hun yang dimakan dengan kuah bersantan yang di dalamnya dimasukkan bakso),” kata dara kelahiran Sigli, 19 Agustus 1993 ini.

Sementara yang menjadi makanan khas Pattani adalah nasi krabu, yaitu nasi yang berwarna  biru atau ungu yang dimakan dengan ikan yang sudah di tumbuk. Kemudian juga dicampuri dengan pucuk-pucuk daun yang diiris kecil-kecil.

“Nasi krabu ini adalah makanan khas masyarakat Pattani. Tak hanya itu, uniknya lagi, di sini nasi pulot (ketan) dimakan dengan ikan asin atau ayam. Selain itu, saya juga menemukan kue yang sama dengan di Aceh, yaitu keukarah, d isini juga memiliki nama yang sama,” kata Lidya.

Lidya mengakui, di Thailand sangat banyak tempat sejarah dan juga wisata pantai. Sementara masyarakatnya, mayoritas Muslim. “Jadi kita tidak kesulitan mencari makanan halal, kecuali di tempat-tempat yang diduduki oleh masyarakat Thai (Kerajaan Siam) yang agak sulit mencari yang halal.”

“Kalau waktu, sama dengan Aceh, tidak ada bedanya dan jadwal salat lebih cepat 30 menit. Sementara cuaca, Thailand juga tidak jauh berbeda dengan Aceh. Terdiri dari musim hujan dan kemarau. Tidak ada ada salju di sini,” katanya.

Namun, hal yang menarik perhatian Lidya di sana adalah saat melihat Pattani seperti melihat Aceh-nya Thailand. Dikarenakan setelah 10 tahun perdamaian, Lidya mengakui tidak pernah melihat prajurit yang berbaju loreng gelap dengan senapan laras panjang. Di sana, ia menyaksikannya.

“Di setiap tempat ada camp mereka yang tidak jauh jaraknya antara satu dengan yang lain. Camp mereka tertutup dengan jaring-jaring warna hitam, karung-karung yang saya tidak tahu apa isinya. Di depan camp pasti jalannya diblok untuk memudahkan melakukan razia di setiap waktu,” kata Lidya.[] (ihn)

Baca juga:

 

Baca juga: