Oleh: Taufik Sentana*

__Menurut  kanal Haba Asa News, kata “Kutidhieng” bermakna mengayun, meninabobokan bayi. Syair Kutidhieng memang asik, energik dan terkesan mistis__

Syair Kutidhieng sempat menjadi hangat dan populer setelah dinyanyikan kembali oleh Liza Aulia beberapa tahun di belakang. Dalam pengantar syair itu tidak disebutkan siapa pengarang liriknya, hanya disampaikan dengan menyebut karya Indatu.
Dari sini dapat kita tengarai bahwa syair Kutidhieng adalah bagian dari warisan lama Aceh.

Menurut ulasan kanal Haba Asa News, kata “Kutidhieng” bermakna mengayun, meninabobokan bayi. Syair Kutidhieng memang asik, energik dan terkesan mistis. Apalagi bila kita dapat memahami setiap bait syairnya. masih menurut kanal yang sama, syair Kutidhieng dianggap telah ada jauh sebelum ada kehadiran Islam di Aceh. Yaitu saat warga daerah Aceh dahulu masih meyakini animisme.Meyakini adanya kekuatan di balik diri manusia, seperti pada petir, kayu besar dan lainnya. Termasuk harimau, yang menjadi bagian dari dalam syair Kutidhieng.
Jadi bisa jadi, awalnya syair Kutidhieng sebagai mantra/bentuk syair lama, sebagai adat dan mediasi dalam menaklukkan hutan, atau menjinakkan binatang buas.
” Wahai yang kuat perkasa, datang dan masuklah
Dan bersamayamlah dalam tubuh,” setidaknya begitu makna petikan mistis dalam bait awal Kutidhieng.

Setelah datangnya Islam, agaknya Islamisasi dalam adat ini dikaitkan dalam syairnya, dengan memasukkan unsur Aulia, bentuk plural dari wali/orang suci. 
Sedang harimaunya seakan menjadi  harimau piaraan si Auliya tadi. Sehingga, dengan keyakinan ini harimau di hutan dianggap sebagai binatang para wali, maka tak perlu takut memasuki hutan. Sebab wali dianggap sebagai orang yang dicintai Allah.[]

*Peminat literasi budaya, menetap di Aceh sejak 1997.