BANDA ACEH – “Pesawat keberangkatan dari Bandara Internasional Kualanamu, Kota Medan, telah mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda,” terdengar informasi yang disiarkan oleh petugas bandara pada Rabu sore, 29 November 2017, sekira pukul 16.15 WIB.
Mendengar informasi dari pengeras suara itu, terlihat tiga pemuda yang memakai baju adat Aceh berwarna hitam, langsung mengambil posisi dengan duduk di kursi sambil memegang alat musik khas tanah rencong, yakni rapai dan seurune kalee. Hanya berselang beberapa menit, pekikan seurune kalee terdengar seakan memberi isyarat untuk memancing para penabuh rapai mengikuti alunannya.
Tabuhan rapai bersahut-sahutan dan berseling seurune kalee terdengar menggema, seakan memecahkan hening beberapa saat lalu di ruang tunggu terminal kedatangan domestik Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM). Suara itu ternyata mengundang perhatian beberapa orang asing yang memakai jaket berwarna biru dengan tulisan Mongolia. Bahkan salah seorang dari mereka langsung mengambil telepon genggam untuk mengabadikan momen tersebut dengan raut wajah yang seakan menunjukkan rasa takjub.
Itulah salah satu tradisi serta adat dari masyarakat Aceh, yakni peumulia jamee. Rapai dan seurune kalee merupakan alat musik yang sering digunakan untuk menyambut para tamu yang datang ke Bumi Serambi Mekkah ini, sedangkan kalung bunga seakan bermakna menerima kehadiran mereka.
Penyambutan tamu secara tradisional dengan ciri khas keacehan tersebut, ternyata membuat para pemain Timnas Mongolia terkesima. Salah satunya, sang pelatih penjaga gawang Timnas Mongolia, Plopeanu Dragos.
Melalui penerjemahnya, Syahwil Saputra, Dragos mengungkapkan rasa kagumnya dengan Aceh dan dia mengatakan belum pernah melihat penyambutan tamu seperti ini di tempat lainnya.
“Penyambutan di Aceh ini sangat luar biasa saya belum pernah melihat yang seperti ini, sangat menakjubkan,” ungkap Dragos kepada portalsatu.com/ melalui penerjemahnya, Rabu, 29 November 2017.
Bahkan, lelaki berusia, 29 tahun, asal Rumania tersebut mengatakan, semua negara punya tradisi sendiri dan ini tradisi yang sangat bagus.
Berdasarkan pantauan portalsatu.com/, sejak Dragos tiba dan melihat permainan musik tradisional Aceh itu di ruang tunggu terminal kedatangan domestik. Dia langsung mengabadikan dengan merekam kegiatan tersebut dengan jarak sekitar 5 meter. Bahkan ia tidak beranjak hingga pertunjukan selesai.[]



