BANDA ACEH – Para pihak mengikuti rapat evaluasi terkait penanggulangan terdamparnya paus sperma di kawasan Ujong Kareng, Aceh Besar, di Kantor UPT PSDKP Aceh, Lampulo, Rabu, 15 November 2017.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (UPT PSDKP) Aceh, Basri dalam rapat terbuka itu menyebutkan, ke depan penanganan persoalan paus terdampar akan lebih baik lagi.
Basri mengatakan, dalam pembentukan tim penanganan nanti, pihaknya akan membuat tim pengamanan dengan melibatkan mahasiswa Unsyiah. Selain itu, untuk dokter ahli juga tidak harus didatangkan dari luar kalau memang ada di Aceh.
“Kalau ada dokter lokal kenapa kita harus mencari dokter hewan yang jauh, selain biaya juga membutuhkan waktu kan,” kata Basri.
Menurut Basri, ke depan komitmen pihaknya akan melahirkan tim penanganan yang solid. “Nanti dalam tim saya sebagai apapun boleh, tidak harus ketua, ini menjadi inti dari evaluasi kita,” ujarnya.
Ia tambahkan, ke depan kalau ada permasalahan di lapangan, semua anggota tim akan paham fungsi masing-masing.
“Karena yang penting harus mengamankan lokasi, tim di lapangan akan tahu harus berbuat apa,” kata Basri.
Ikbal, pendamping lapangan dari Jakarta Animal Aid Network (Jaan) mengatakan, “Empat paus yang mati telah ditanam di lokasi sore kemarin, selesai dibedah oleh tim dokter FKH Unsyiah, dan penguburannya selesai pada pukul delapan malam. Alasan langsung ditanam supaya tidak mengeluarkan bakteri, lantaran kondisi bangkai paus sudah waktunya mengeluarkan bakteri”.
Amatan portalsatu.com/, sejumlah pihak yang hadir dalam rapat evaluasi tersebut, di antaranya, Kepala BKSDA Aceh Sapto Aji Prabowo, perwakikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dokter hewan PKSL Unsyiah Arman Sayuti, DKP, Kepala Sekolah Usaha Perikanan Menengah SUPM Ladong Adnal, WWF, FFI, WCS, SAR, Bakamla, dan ODC Unsyiah.[]



