BANDA ACEH – Ini adalah malam yang lucu. Kami mengadakan rapat komunitas baru, Mideuen Jurnalis Budaya, yang belum disahkan pengurusnya.
Agenda rapat malam ini untuk merumuskan menyusun draf rencana Konferensi Kebudayaan tentang Grand Design Kebudayaan Aceh, dan pengukuhan pengurus.
Waktu, Jumat malam,10 Maret 2017, pukul 20.00 wib sampai selesai.
Acara rencana di Ruang Rapat Forum LSM Aceh, Lambhuk, Banda Aceh.
Begitu pukul 20 tiba, Ketua Forum LSM Aceh, Sudirman, menghubungi, aku masih dalam perjalanan.
Setibanya aku di tempat, belum ada peserta yang datang. Setelah hampir satu jam, seorang wartawan yang juga mahasiswa sejarah FKIP Unsyiah, Fahzi, menghubungi minta ikut. Maka datanglah dia.
Kami duduk minum kopi, sampai sekira pukul 22:00 tibalah Ari Pahlawi, seorang Aktivis dari Pusat Kajian dan Pengembangan Seni Unsyiah. Beberapa menit kemudian muncul Rizal Usman, seorang aktivis antarbangsa di ACSTF.
Karena cuma empat orang, kami pilih duduk di kedai kopi itu. Karena Rizal Usman adalah anggota KKR, maka Ari bicara tentang KKR selama beberapa saat.
Setelah itu pembicaraan baru mengarah pada rapat kebudayaan. Namun, itu tidak mengarah pada tema utama rapat, yakni menyusun draf konferensi kebudayaan, malah tentang pola-pola lain. Mungkin kalau Jauhari Samalanga hadir, pembicaraan akan mengarah pada draf tersebut, karena, membuat grand design kebudayaan Aceh adalah idenya.
Jauhari tidak bisa hadir malam ini karena secara tiba-tiba ia harus ke Bener Meriah. Namun, aku tidak mau menunda rapat itu karena undangan sudah disebar, walaupun kenyataanya yang datang cuma empat orang denganku.
Dan, celakanya, malam ini rencananya mengukuhkan pengurus Mideuen Jurnalis Budaya, namun tidak seorang anggota pun hadir, selain diriku.
Aku menilai ini sebagai hal yang biasa, sesuatu yang lucu dari cara orang Aceh. Kalau begitu terus komitmen orang-orang, maka kemajuan Aceh hanyalah khayalan. Ini contoh kemalasan, bahwasanya kita tidak mau menyediakan waktu untuk berpikir demi kemaslahatan umat. Betapa egoisnya itu?
Ini adalah acara yang ketiga Mideuen Jurnalis Budaya. Rapat pertama cuma dihadiri lima orang dari dua puluh empat orang, rapat kedua ada tiga orang anggota grup dan dua dari pegiat seni umum.
Dan pada rapat yang ketiga ini, selain aku, tidak ada seorang pun yang anggota grup —selama ini kami berdiskusi di grup WA (WhatApps) MIDEUEN JURNALIS BUDAYA.
Ada beberapa orang rekan mengabarkan bahwasanya ia tidak bisa hadir, dan yang lain tidak mengabarkan apa-apa.
Lalu, apakah aku bersedih atau malu karena rekan-rekan itu tidak hadir? Apakah aku akan berpikir mereka ternyata tidak mau mendengar seruanku atau mereka hanya main-main dengan kesepakatanya?
Tidak sama sekali. Ini, adalah organisasi kebudayaan yang ketiga atau keempat yang aku turut mendiriknnya. Jadi, santai saja.
Yang penting bagiku, rekan-rekan wartawan dari berbagai media itu sudah menyepakati untuk membuat komunitas jurnalis budaya, walaupun karena beberapa alasan mereka tidak mungkin menghadiri rapat. Tidak mudah mencari waktu yang mereka semua hadir, ditambah, mungkin saja, handai taulan itu belum memahami betapa pentingnya organisasi yang tengah kami bentuk ini. Mereka belum tahu bahwasanya mereka adalah orang-orang penting dalam menguatkan kebudayaan.
Aku memahami bahwasanya, cuma beberapa orang di antara kami yang organisator. Rekan yang organisator lain telah mengabarkan bahwasanya ia tengah sibuk akhir-akhir ini. Jadi, hanya aku di antara organisator yang ada waktu alias 'tidak ada kerjaan' atau 'gila'.
Aku teringat, Adolf Hilter menulis dalam bukunya yang berjudul Mein Kamf, rapat pertama partai NAZI itu di cafe kecil yang cuma dihadiri oleh tujuh orang. Saat itu tidak akan ada yang menduga bahwasanya pidato Hitler di kemudian hari akan dihadiri jutaan orang, tidak muat ruang terbesar di kota, bahkan barisan orang-orang menyesaki lapangan dan jalan, yang kemudian mengguncangkan dunia. Itu contoh dari gerakan yang keras dan sadis.
Namun, jika kita ambil contoh yang berakhlak dan beradab dari nabi Muhammad SAW pun begitu. Pada masa awal dakwah Nabi saw, cuma diikuti oleh beberapa orang. Tidak ada yang menduga saat itu, kalau beberapa tahun setelahnya, jutaan orang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW yang kemudian dapat menundukkan pengaruh Kekaisaran Persia dan Bizantium.
Namun, ini bukan sebuah gerakan yang akan menyebabkan perang dunia II seperti Hitler buat, dan bukan pula soal agama baru yang menjadi paling besar di dunia. Ini hanyalah acara kebudayaan, yang tentu saja, budaya orang Aceh itu islami. Ini tentang apakah orang Aceh telah pulih dari penjajahan mental di masa perang atau konflik? Sepertinya belum.
Kembali pada isi bincang kebudayaan dengan Ari Pahlawi. Ia bersikeras dengan idenya bahwasanya membuat draf konferensi tidak perlu. Rekan-rekan lain yang hadir sepertinya pun setuju dengan ide itu. Sementara aku menilai bahwasanya, apa yang disampaikan Ari itu telah pernah kupikirkan, dan beberapa orang lain di komunitas seni yang berbeda pun telah mengatakannya.
Namun hasil dari itu, yang kusaksikan, adalah itu ide hanya berjalan lemah seperti siput yang pengahruhnya pun kecil. Aku pernah melakukannya dengan beberapa organisasi kebudayaan sebelum ini.
Namun yang kubutuhkan sekarang adalah sebuah sistem, sebuah struktur aturan untuk kebudayaan yang kuat dan menjadi rujukan, yang pengaruhnya bisa langsung, sekali hela langsung tergerak serentak. Dan, aku tidak akan mengulangi hal kesia-siaan itu. Yang kita butuhkan adalah kekuatan dari seluruh pilar negeri terpusat pada kebudayaan.
Walaupun begitu, aku tidak akan membantah Ari, dan akan kudukung idenya, tapi di organisasi lain, tidak dengan organisasi wartawan peduli budaya ini.
Ari sempat bertanya, mengapa nama organisasi jurnalis? Apakah cuma jurnalis? Kujawab, tidak. Aku mengatakan, bahwasanya kaum jurnalis ini lebih kuat daripada yang lain walupun kadang tidak memahami kebudayaan ataupun gerakannya walaupun mereka menyukainya.
Ari tidak setuju dengan itu. Ia pun mengarahkan pembicaraan kepada sebuah komunitas umum yang terdiri dari ogranisasi dan tokoh budaya sebagaimana mereka buat di Forum Peneliti Aceh.
Sekali lagi, aku tidak berpikir seperti itu, walaupun tidak membantahnya. Aku lebih percaya ini akan lebih berhasil jika digerakkan atas nama Mideuen Jurnalis Budaya daripada membentuk kelompok lain –walaupun anggota organisasi tersebut lebih banyak dan orang-orangnya lebih memahami budaya– karena dengan organisasi ini, aku bukbukan tengah ingin membuat pertunjukan, kajian, pameran budaya, dan lainnya. Tidak. Akan tetapi aku ingin membuat kebudayaan menjadi salah satu pilar penting di dalam struktur masyarakat dan pemerintah Aceh. Dan itu, hanya bisa dilakukan jika kaum jurnalis yang di depan.
Artinya, tentang ide grand design kebudayaan Aceh, aku harus menunggu Jauhari Samalanga dan rekan jurnalis lain untuk merampungkannya. Aku tidak mau buang-buang waktu dengan sesuatu cara yang tidak kumengerti, walaupun menurut beberapa ahli itu cara bisa berhasil, namun aku harus melakukan dengan cara yang aku bisa, kecuali orang tersebut bersedia melakukannya. Namun, hanya sedikit di antara kita yang bersedia mewaqafkan dirinya untuk kepentingan umat.
Sementara dengan Ari, aku akan melanjutkan rencana kami dalam mengangkat seudati ke permukaan budaya lagi, secara sitematis. Sekali lagi, draf konferensi untuk grand design kebudayaan Aceh batal disusun malam itu. Namun pertemuan tersebut ada gunanya. Kita sudah semakin memahami bahasa masing-masing dan satu sama lain.
Di tengah pemibicaran, karena sudah larut, Fahzi berpamit. Sekira satu jam setelahnya, Ari pun pamit. Tinggallah aku dan Rizal mengisi malam di kedai itu, namun cuma satu dua menit kami bicara tentang gerakan budaya, lalu bicara tentang kepemimpinan kembali sebagaimana yang telah beberapa kakli kami lakukan.
Malam pun berpamit. Dan, satu hal yang harus kita yakini, bahwasanya tahun ini, kita akan membuat konferensi kebudayaan, yang dihadiri seluruh pakar, tokoh, dan penguat budaya dan seni di seluruh Aceh, selama beberapa hari. Insya Allah.[]



![[RANGKUMAN WAWANCARA] PKA: Pekan Kebudayaan, Apa Pasar Malam](https://portalsatu.com/wp-content/uploads/2023/02/Aceh-tradisi-gambar-hiasan.-@By-tla-with-labs.openai.com_.jpg)



