Jumat, Juli 19, 2024

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...
BerandaRatusan Ribu Muslim...

Ratusan Ribu Muslim Bangladesh Langgar Lockdown Demi Makamkan Ulama

Lebih dari 100 ribu orang dikabarkan melanggar aturan pemerintah Bangladesh yang telah melakukan lockdown untuk memutus penyebaran virus corona atau Covid-19 di negara itu. Orang-orang itu bahkan menghadiri permakaman seorang pemimpin partai Islam di distrik Brahmanbaria.

Dikutip dari CNN Amerika, ratusan orang yang menghadiri pemakaman itu telah dikonfirmasi oleh asisten khusus perdana menteri, Shah Ali Farhad dan juru bicara Kepolisian Brahmanbaria, Imtiaz Ahmed.

Acara pemakaman Maulana Zubayer Ahmad Ansari yang merupakan pemuka agama Islam itu digelar pada Sabtu, 18 April 2020 lalu dan telah melanggar aturan negara yang melarang orang-orang berkumpul lebih dari lima orang pada satu waktu.

Ribuan orang yang membanjiri jalan-jalan ke distrik Brahmanbaria itu dikhawatirkan dapat meningkatkan penularan virus corona dalam jumlah besar. Menurut Mohammad Mamunul Haque, sekretaris jenderal bersama partai Islam  itu ribuan orang berjalan dari daerah sekitar untuk menghadiri pemakaman.

Kepolisian setempat tidak dapat mengendalikan kerumunan orang yang datang dari berbagai daerah. Sohel Rana, juru bicara Pusat Kepolisian menyampaikan jika polisi sedang melakukan penyelidikan bagaimana kerumunan orang yang begitu besar diizinkan untuk berkumpul.

Sejak Minggu, 19 April 2020, otoritas Bangladesh menyampaikan telah ada 2.456 kasus positif COVID-19  dengan 91 kematian tetapi para pejabat mengatakan jumlah aktual kemungkinan lebih tinggi karena kurangnya alat uji corona di negara itu.[] Sumber: viva.co.id

Baca juga: