JAKARTA – Kepala Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Eko Nugroho, menyayangkan dalam waktu beberapa hari belakangan ini, kata “referendum” ramai dibicarakan terutama di dunia maya.
Kata itu menjadi ramai setelah dilontarkan mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf alias Mualem.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Aceh, Provinsi Aceh masih bertahan sebagai provinsi nomor satu termiskin di Sumatera.
“(Isu referendum) ini yang disayangkan,” kata Agus Eko Nugroho ketika dihubungi 31 Mei 2019.
Ia menegaskan bahwa referendum tidak produktif karena permasalahan semestinya bisa ditangulangi dengan ekonomi bukan politik.
“Problema akan lebih pelik karena referendum akan memberikan pekerjaan yang jauh lebih banyak politik ekonomi dibanding hanya masalah ekonomi saat ini yang dihadapi,” jelas dia.
Menurut dia, dalam bidang ekonomi ada dua faktor yang menjadi penyebab mengapa perekonomian Aceh belum mampu mengakselerasi kemajuan ekonomi secara signifikan.
“Masih kuatnya ketergantungan Aceh terhadap ekspor komoditas primer. Yang selama 5 tahun terakhir harga komoditas global turun sangat signifikan,” ujar dia.
Kedua, jelas dia, kesulitannya mengaitkan perekonomian Aceh dengan pusat pertumbuhan negara tetangga yakni Malaysia dan Thailand.
“Pertumbuhan segitiga Ind-Malaysia-Thailand. Tantangannya adalah bagaimana mempercepat pembangunan KEK di Sabang dan Mandalika,” papar dia.
Penulis: Jhon Rico.[]Sumber: covesia.com




