Oleh Taufik Sentana
Anies Baswedan, dalam potongan dialog tentang Jakarta masa depan, ia mengatakan bahwa pemimpin dan pemimpi hanya dibedakan dengan huruf “n” . Maka mimpinya tentang Jakarta dalam kepemimpinannya adalah “Makmur Kotanya, Bahagia Orangnya”
Pengantar di atas menunjukkan kepada kita bahwa mimpi bisa menjadi titik tolak kepemimpinan diri dan komunal. Mimpi secara formal adalah visi besar, gambar pikir yang melekat dalam benak dan tidakan dengan keyakinan dan komitmen.
Sekarang coba kita bayangkan gambar besar (realitas duniawi) dalam pikiran Nabi Besar Muhammad SAW tentang Konstantinopel. Sang Nabi menancapkan visinya ke dalam benak para sahabat bahwa kota itu akan ditaklukkan oleh pemimpin terbaik dengan pasukan terbaik.
Sebagian energi sahabat selalu terbagi untuk berlomba menjadi “jalan” takdir dalam penaklukan Konstantinopel. Tapi harapan itu baru dapat terwujud 800 tahun kemudian melalui Muhammad Alfatih. Lalu memberi nama kota itu dengan “Kota Islam”, Islambuld (bukan dengan namanya).Kini menjadi Istambul Turki.
Dari sini kita menyadari bahwa mimpi itu awalnya berpotensi menggerakkan dan bekerja dalam sistem bawah sadar dengan Genggaman Kuasa Ilahi. Mimpi menjadi “kemutlakan” personal, hak milik yang sangat berharga dan tak bisa dicuri. Namun, mimpi semata tidaklah cukup, butuh keyakinan di awal dan keberanian di langkah pertama. Selanjutnya komitmen, kesabaran dan kerendahan hati: Kerendahan hati diperlukan untuk menyadari kesalahan diri dan perbaikan yang terus menerus.
Untuk itu kita dapat menata kemabali hidup kita di depan dengan merekonstruksi mimpi yang berani kita wujudkan. Bila ingin yang radikal, anggap saja mimpi kita sebelum ini telah gagal total, dan kita bisa memulainya kembali menurut keyakinan kita tentang makna hidup dan jalan keabadian yang akan kita tempuh.
Kini gambarkanlah capaian paling besar yang layak kita raih dalam jangka waktu tertentu. Lalu merawatnya dalam setiap doa dan kebiasaan harian yang mengarah ke mimpi tersebut. Kita bahkan bisa menemui orang yang memang telah sampai pada yang kita mimpikan tersebut. Dan sejatinya mimpi itu melingkupi aspek hidup kita secara pribadi, sosial dan eksistensial.
Bila selama ini kita mengabaikan bangun pagi, maka kita bergerak untuk memanfaatkan pagi untuk melatih jiwa agar optimis dan penuh semangat. Bila selama ini kita ke warkop hingga lebih dari tiga kali sehari, kini kita bisa menyelaraskannya dengan mengisi masjid di shaf pertama. Bila selama ini kita merasa berjarak dengan anggota keluarga, kini kita bisa mengatur majelis keluarga setiap pekan, utamanya di malam jumat. Begitulah seterusnya, merekonstruksi mimpi kita lewat kebiasaan baru yang mengarah pada masa depan yang lebiih baik. Sebab, esok memang menjadi waktu yang masih suci dan belum tersentuh, mimpi dan harapan kitalah yang menyentuhnya.
Semoga Allah Yang Esa menjadi Penuntun dalam realisasi mimpi kita.[]
Taufik Sentana
Bergiat di Bid. Pengembangan SDM




