LHOKSUKON – Dalam rekonstruksi pembunuhan Bripka Faisal terungkap, yang menembak korban tiga kali di perut, bahu dan mata, adalah tersangka Muktarmidi alias Tar alias Midi. Diungkapkan Midi, ia menembak atas perintah Zulkifli alias Jol alias Botak.
Tiga tersangka memperagakan 35 adegan dalam rekonstruksi digelar Polres Aceh Utara di lokasi kejadian, di Pantai Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Selasa, 18 September 2018, pukul 15.00 hingga 17.00 WIB. Tiga tersangka itu Muktarmidi alias Tar alias Midi, Darwin alias Wen, dan Mhd. Arief Munandar alias Arep.
Pantauan portalsatu.com/, di awal adegan terlihat perahu mesin ditumpangi tujuh tersangka anggota kelompok kriminal ‘Setan Botak Peureulak’ menepi ke pesisir Pantai Bantayan. Saat itu, beberapa warga ikut membantu menarik perahu ke darat bersama tersangka.
Saat tujuh tersangka duduk di salah satu pondok di pantai, tiba-tiba personel Satuan Reskrim Polres Aceh Utara, Bripka Faisal, melintas dengan sepeda motor. Kala itu, Bripka Faisal yang sudah berkendara sejauh 30 meter, tiba-tiba kembali memutar kendaraannya ke lokasi para tersangka sedang duduk. Bripka Faisal langsung menghentikan sepeda motor dalam kondisi mesin tetap menyala dan mengarahkan lampu sepeda motor ke arah tersangka duduk di dalam pondok. Bripka Faisal menodongkan senjata laras panjang ke arah para tersangka setelah terlebih dahulu mengokangnya.
Saat ditodong oleh Bripka Faisal, tersangka Darwin mengaku waktu itu mereka semua berdiri dengan posisi tangan di atas kepala dan Botak di barisan paling ujung. Saat itu, salah seorang saksi warga setempat, Zulkarnaini ikut mengangkat tangan ke atas sambil berujar, “Saya warga Bantayan”, seraya berjalan lalu duduk dengan posisi jongkok di luar gubuk dekat sepeda motor Bripka Faisal diparkir.
Bripka Faisal memeriksa badan tersangka dari belakang dimulai dari Darwin, Mukhtarmidi, Adi (buron/DPO), TM alias Dek Gam (DPO), Arep, Mancho dan terakhir si Botak. Kemudian Bripka Faisal memerintahkan mereka tiarap. Saat itu Bripka Faisal kembali memeriksa kantong celana Botak yang sedang tiarap. Karena tidak bisa diraba, Botak diminta telentang.
Ketika Bripka Faisal kembali memeriksa kantong celana Botak, di situlah Botak memiliki kesempatan merampas senjata korban seraya berkata, “kapoh (kalian pukul)”. Lalu Darwin bangun memegang kepala Bripka Faisal dari arah belakang, kemudian Mancho ikut bangun menumbuk wajah korban dari arah bawah beberapa kali.
Botak lalu merebut senjata korban. Ketika itu korban sempat menekan pelatuk senjatanya hingga merentet tiga kali tembakan. Botak berhasil merebut senjata AK-56 tersebut, tapi posisi tali senjata masih di leher korban. Kala itu, mereka langsung mengeroyok korban. Arep menendang dari arah belakang. Mancho mencolok mata korban dari arah depan dengan jari. Saat Botak jongkok dengan senjata korban di tangannya, Midi memegang pistol korban yang diselip di pinggang dan baru berhasil mengambilnya saat korban hendak berdiri.
Ketika korban bangun menghadap Midi yang telah berhasil mengambil pistolnya, Botak mengokang senjata laras panjang milik korban sambil menyuruh Midi menembak korban menggunakan pistol itu. Tembakan pertama mengenai perut korban. Sementara saksi Zulkarnaini melarikan diri saat Botak berupaya merebut senjata korban.
Setelah tembakan pertama, korban berjalan mundur ke belakang hingga keluar dari pondok sambil memegang perutnya. Kala itu, Midi kembali menembak korban di bahu, karena Botak mengatakan, “Katimbak…, katimbak, meunyoe hana kutimbak kah-kah (Kau tembak…, kau tembak, jika tidak kutembak kamu)”. Usai terkena tembakan kedua, korban mundur menyamping ke belakang sambil berucap, “tulong (tolong), bantu”.
Botak kembali memerintah Midi, “Kalet, katimbak beumate (Kejar, kau tembak sampai mati)”. Midi mengejar korban ke arah semak-semak. Saat korban berbalik melihat ke arahnya dengan jarak lima meter, Midi kembali menembak korban dan mengenai matanya.
“Saat itu saya memang menembak ke arah korban, tapi tidak tahu mengenai mata karena suasana sangat gelap. Saya mengarahkan pistol dan menembak ke arah korban, setelah itu saya langsung pergi dan tidak melihat lagi ke arah korban,” ucap Midi menjawab pertanyaan petugas terkait bagaimana mungkin Midi bisa membidik tepat di mata korban.
Saat Midi kembali ke kawanannya, Botak dan Darwin berjalan ke arah korban dengan maksud mencari tas milik mereka. Setelah meraba dan tas tersebut tidak ada pada korban, Botak mengambil magasin korban yang disimpan di saku celana. Saat akan pergi meninggalkan korban, tiba-tiba handphone korban berdering dan mereka juga mengambilnya. Kemudian mereka pergi meninggalkan korban yang sudah tersungkur di semak-semak.
Tersangka TM alias Dek Gam dan Adi yang kini buron sudah lari lebih awal ke arah perkampungan dengan menyeberang tambak-tambak warga. Sementara lima tersangka lainnya berenang melalui TPI Teupin Kuyun melalui Kuala Jambo Aye menuju Aceh Timur. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan tiga tukang ojek atau RBT.
Dalam rekonstruksi itu, dua tersangka yang sudah tewas (Zulkifli alias Jol alias Botak dan Samsul Bahri alias Mancho), serta dua tersangka buron (TM alias Dek Gam dan Adi) diperankan oleh personel Polres Aceh Utara.
Seperti diketahui, personel Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Aceh Utara, Brigadir Faisal, ditemukan tewas dibunuh oleh anggota kelompok kriminal, di Pantai Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Minggu, 26 Agustus 2018, dini hari. Almarhum Faisal kemudian mendapat penghargaan kenaikan pangkat satu tingkat menjadi Brigadir Kepala (Bripka).[]
Lihat juga:
'Setan Botak Peureulak' Peragakan 35 Adegan Pembunuhan Bripka Faisal






