Karya: Taufik Sentana*
Puisi tidak berdiri sendiri. Ia bukan kata kata yang dipajang di atas kaca. Bukan kata kata yang melompat dari kamus dan menjelma pengertian semaunya. Dalam bentuk dan muatannya, puisi berdiri di atas pengalaman dan penghayatan. Ia menyimpan gairah, merajut imaji dan membanjiri segala konsep ekspresi ataupun warna sosial dalam kenyataan sehari hari.
Puisi bisa bersifat pribadi, halus tersembunyi, atau lantang menggedor pintu nalar. Ada yang menyebutnya puisi kamar dan puisi auditori. Ada yang menyebutnya puisi abstrak dan puisi konkret. Ataupun ia adalah puisi bebas dan puisi naratif. Namun puisi tetap terikat pada diksi, pilihan kata dan maknanya sendiri.
Entah itu kearifan,kebenaran atau mainan imaji.
Mungkin puisi bisa menjadi pereda penat, meredam laju hidup yang pesat. Semua tergantung struktur pengalaman massa dan struktur penghayatan si penyair.Idelnya, keduanya bertemu dalam makna dan realitas keseharian.
Bersama sama merekonstruksi puisi dengan ragam apresiasi, dari wujudnya yang dianggap sunyi
ke wujud yang lebih hangat dan akrab.
Dari celah celahbilik rumah atau pintu pintu di sekolah
dan di panggung keramaian. Hinga puisi pun dapat menjadi konstruksi keadaban masyarakatnya pula.[]
*Memilih setia pada kata kata sejak 1994.
Banyak menulis puisi, ulasan dan esai sosial.
Bereksperimen dengan puisi pragmatis , eksperimentalia dan cepat saji serta sufistik. Kumpulan terbarunya, Password Kebahagiaan.


