Oleh Taufik Sentana
Bergiat di kajian sosial-budaya dan Pengembangan SDM.
Bila dalam literatur pengembangan SDM sering digunakan kata resolusi jelang pergantian tahun Masehi, maka tak ada salahnya kata resolusi itu kita kaitkan dan kita sandingkan dengan capaian pasca Ramadan.
Kata resolusi itu bisa kita beri makna sebagai formulasi rencana dan strategi perbaikan dalam bidang apapun. Baik itu aspek pribadi, keluarga, sosial-masyarakat, organisasi atau finansial.
Adalah alasan yang tepat saat kita memilih syawal sebagai tonggak resolusi. Sebab, sebelumnya kita (muslim yang mukmin) baru saja menuntaskan rangkaian ibadah yang (sepatutnya) memberikan energi positif dalam memandang progres hidup ke depan. Selain itu, kata syawal juga bermakna sebagai “peningkatan dan perbaikan”. Maka adalah tepat bila kita mulai melirik syawal sebagai salah satu bulan dimana kita bisa membuat solusi baru dan cara pandang baru dalam menyelesaikan persoalan hidup dan pernak perniknya.
Bila kita kembali ke cita rasa ramadan, maka resolusi yang menjadi sentral kita adalah aspek spiritual, pemurnian niat hidup dan relevansi tanggung jawab sosial kita.
Secara spirituil kita mesti selalu menjaga konektivitas ke Zat Yang Maha Hidup dengan zikrullah baik dengan lisan ataupun tindakan. Hal ini diperlukan untuk menyalakan mata ruhani dan membersihkan jiwa. Bahkan kegiatan ini juga berpengaruh pada kehidupan fisikis. Secara umum, kita mengasah spiritualitas ini dengan terus bersikap taat dari waktu ke waktu. Mengosongkan diri dari perbuatan sia-sia dan tak tak berguna kepentingan kita di hari hari depan.
Adapun teknis dan langkah serta unsur unsur yang perlu kita jadikan sebagai resolusi pada syawal ini, tentulah beragam sesuai kapasitas dan promlem individu. Intinya kita mesti berkaca kembali, mempelajari kembali masalah kita dan merunut kembali motif dan harapan terbesar kita dalam hidup.
Dengan pendekatan ini kita akan bisa mendapatkan gambar besar tentang peran kita untuk hari ini dan seterusnya. Sambil terus meyakini bahwa hidup di dunia hanyalah sekadar lewat untuk menyiapkan bekal terbaik di alam yang abadi kelak.[]



