Karya: Taufik Sentana*

Rinduku jatuh satu satu
menjadi sungai sungai kecil
penuh takjub, harap dan takut.
Rindu itu mestilah memecah di laut,
mencacah kedalaman
dan mengeja rahasia rahasia kecil.

Rinduku jatuh satu satu
menjadi tetumbuhan hijau
tanpa rasa pukau
tanpa asa yang lapuk.

Rinduku jatuh satu satu
mengetuk relung relung kecil di hati
menggedor gedor daun pintu yang lalu:
Syahdu dan gemuruh. Gairah dan luruh.

Rinduku jatuh satu satu
menjadi titian esok
dari kelana yang sibuk
dalam persinggahan:
untuk sampai
pada Yang Satu.[]

*Penyuka prosa sufistik