BANDA ACEH – Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Aceh T. Nasruddin mengatakan, cikal bakal lahirnya Ruang Memorial Perdamaian Aceh merupakan wujud dari salah satu tugas pokok lembaga tersebut dalam menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh.

Hal itu disampaikan T. Nasruddin saat menerima kunjungan belasan blogger Aceh dari Komunitas Gam Inong Blogger siang tadi, Rabu, 23 Agustus 2017.

Ruang Memorial Perdamaian Aceh ini kata dia merupakan gagasan dari Kepala Kesbangpol Aceh sebelumnya yaitu Nasir Zalba. Pertama kali dibuat pada tahun 2013 dan rampung pada 2015 lalu.

“Ini awalnya ruangan salah satu bidang di kantor kita, kemudian digabung untuk dijadikan Ruang Memorial Perdamaian ini. Kita buatnya tidak sekaligus, disesuaikan dengan anggaran. Tahun pertama pada 2013 ada anggaran sebesar Rp50 juta, kemudian kita mencoba untuk mendesain ruangannya. Tahun berikutnya dapat lagi, kita bikin lagi,” kata T. Nasruddin.

Nasruddin memperkirakan, total anggaran yang dihabiskan untuk membuat ruangan tersebut sekitar Rp200 juta. Sementara untuk konten seperti koleksi foto, banyak didukung oleh pihak eksternal seperi kalangan LSM. Di antaranya kata dia, lembaga Achehnese Civil Society Task Force (ACSTF).

Ke depan kata dia, ruang ini diharapkan bisa menjadi pusat penelitian penyelesaian konflik dan perdamaian di Aceh. Dan kabarnya kata Nasruddin, tahun depan pemerintah akan menggelontorkan anggaran besar untuk menambah konten pendukungnya.

“Bisa jadi nanti peta perjalanan sejarah perdamaian Aceh ini kita visualisasikan (digitalisasi). Atau ada penambahan video-video dokumenternya, sehingga ruangan ini memiliki data atau sumber yang menjadi referensi untuk penyelesaian konflik,” ujarnya.

Saat ini pihaknya terus mengumpulkan bukti-bukti atau artefak konflik Aceh untuk melengkapi koleksi Ruang Memorial Perdamaian Aceh. Salah satu yang menjadi incaran kata Nasruddin, seragam yang pernah dipakai oleh anggota Gerakan Aceh Merdeka.

Ruang Memorial Perdamaian memamerkan sejumlah foto-foto yang menjadi rekam jejak konflik Aceh hingga masa perdamaian. Ada juga berupa video, buku-buku, hasil penelitian dan artefak seperti potongan senjata dan granat.

Menariknya ruangan ini juga bisa digunakan sebagai fasilitas publik dengan kepasitas terbatas untuk diskusi, workshop dan training untuk mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum terkait isu-isu penguatan perdamaian. Dan untuk itu tidak dikenakan biaya apa pun.[]