MALAM Kamis, atau Rabu malam. Rerintik hujan seperti biasa, suasana kedai Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Aceh. Terlihat semakin didatangi oleh para pengunjung.

Pendatang tersebut ada yang memakai kupiah, baju koko berteman sarung dan ada juga yang tidak, namun semua mempunyai tujuan yang sama, iAdapun pengajian di malam ini, Kamis bertanggal 19 Oktober 2016 bertajuk “Turki dan Dunia Islam”. Acara ini dimulai antara pukul dua puluh dan dua puluh satu, berakhir kurang lebih dari pukul dua puluh tiga malam. 

Bahpun rerintik hujan, tapi tidak menyurutkan niat bagi para pendatang, di kala sepertiga acara tengah berlaku. Sudah ada ratusan orang yang memenuhi balai di kedai Remoh Aceh kupi Luwak tersebut, bahkan beberapa orang tidak mempunyai tempat di atas balai itu.

Pengisi acara di kesempatan yang penuh berkah ini adalah seorang doktor yang berasal dari Malaysia. Dr. Hj. Ahmad Azam Abd Rahman, lebih lengkapnya. 

Waktu terus bergulir, kajian-kajian yang dipaparkan pun semakin membuat para tetamu, hadirin terkesima dalam mendengarnya.

“Rumpun Melayu ini, dulunya pernah bersahabat dengan Turki, terutama Aceh, dan mari kita hangatkan kembali hubungan ini,” papar Presiden Wadah Pencerdasan Umat Malaysia tersebut (wadah), di sela-sela pengajian tengah berlangsung.

Penulis buku “Erdogan Bukan Pejuang Islam?” ini pun menyampaikan banyak hal adakala itu pengalaman-pengalamannya dikala berada di Turki dan banyak hal lainnya. Seperti bagaimana mereka-mereka yang di sana itu sangat menjaga baik hubungan dalam hal kebersamaan.

“Saya mendapati kucing-kucing yang ada di sana itu bersih-bersih dan gemuk, rupanya di Turki, ada pemerhati juga terhadap binatang-binatang itu,” kilahnya dan disambut tawa oleh sekalian tetamu yang hadir.

Waktu terus berjalan, awak media pun dengan fokusnya mengabadikan acara pengajian itu ke dalam kamera-kamera mereka. Tetamu yang hadir, adalah mereka dari tengku-tengku, politikus, seniman, budayawan, para sekalian wartawan dan dari semua latar belakang yang berbeda pengunjung berhadir untuk mengikuti pengajian tersebut.

“Semoga dengan adanya pengajian rutin ini, di setiap malam Kamis, beradalah kejayaan untuk kita semua ke hadapannya,” saya berguman sendiri di dalam hati.

Acara pun selesai dengan sempurna, adalah rerintik hujan sebagai rahmat yang dipenuhi berkah menemani malam ini.[]

Penulis: Syukri Isa Bluka Teubai