Kelemahan adalah watak asli manusia. Adapun kekuatan yang diakuinya hanyalah untuk menutupi kelemahan tadi. Dalam aspek apapun, manusia hanyalah makhluk lemah. Ya, walaupun manusia itu telah menembus gunung dan membelah laut serta mencapai teknologi canggih, ia tetap lemah. Hingga untuk menghindari dan menyelamatkan diri dari virus flu saja butuh waktu dan riset yang panjang. Saat flu biasa menyerang seseorang, minimal butuh istirahat agar stamina meningkat, atau ia akan terbujur di kasur karena nyeri badan akibat flu tadi.
Capaian kita yang paling mutakhir/modern, bisa jadi menisbikan kelemahan kita. Sehingga kita abai bahwa diri ini sangat lemah dan berbangga lalu menyangka bahwa semua berdasarkan usaha sendiri. Padahal, untuk membuat sesayap lalat saja tak akan pernah bisa. Padahal, saat tidur pada malam hari, kita tak akan tahu apa yang terjadi saat itu atau esoknya.
Di atas adalah tipe rasa lemah yang berkaitan dengan hakikat kemanusiaan kita. Sehingga diperlukan ilmu, kesadaran dan iman serta bimbingan dari Ilahi. Tanpa ini, manusia akan mencari “sumber kekuatan” lain yang dianggap sebagai penolongnya. Sesungguhnya kelemahan akan hilang dengan ketaatan dan amal kebaikan, meskipun ini tak mudah, tapi melampauinya menjadi kemenangan yang nyata.
Adapun kelemahan sistemik yang berpunca pada ketidakadilan, hanyalah cara lain agar kita dapat mengenal bahaya zalim dan penindasan. Kelemahan ini bersifat massif dan seakan terstruktur. Maka betul kata Bill Gates, dia menjadi orang terkaya karena sistem yang mendukung. Maka sering kita dengar, pendapatan seorang pejabat bisa sebanding dengan ribuan pekerja pabrik, atau jutaan orang guru bakti.
Kedua bentuk kelemahan tadi, kelemahan diri secara mental dan kelemahan struktur sosial kita, membutuhkan pemyadaran,pengetahuan dan perlawanan yang sama. Mungkin, di saat lemah, kita berada di orbit yang salah, atau karena ada skala sosial yang timpang.[]
Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam.


