PEREMPUAN dengan wajah khas Asia Selatan itu menyambut kedatangan tim Komunitas Solidaritas Dhuafa Aceh (KSDA) di kediamannya Selasa siang, 3 Oktober 2017. Dari gang sempit di Jalan Tanggul Gampông Kuta Alam, Banda Aceh ia menunggu dengan senyum mengembang.

Langit tampak cerah. Angin berkesiur lembut. Tembok tinggi membentang di sebelah kiri gang sejauh mata memandang. Di sebelahnya tampak atap-atap asrama TNI Kodam Iskandar Muda. Tembok itu seolah menjadi simbol pemisah dua sisi kehidupan yang berbeda. “Mari masuk,” ujar perempuan berkulit cokelat itu ramah.

Namanya Nurhayati. Usianya baru 21 tahun, namun sudah bergelar sebagai istri dan ibu dari tiga anaknya. Si sulung berusia enam tahun, disusul yang kedua empat tahun, dan yang bungsu masih delapan bulan. Dikepit dalam gendongan. Namanya Bunga.

Nurhayati lantas memandu kami menuju tempat tinggalnya. Posisinya lebih rendah dari gang. “Duduk,” katanya lagi seraya mempersilakan kami masuk ke ruangan berukuran 3×3 meter.

Lima anggota KSDA yang siang itu berkunjung seketika membuat ruangan itu jadi penuh. Dua tahun terakhir Nurhayati dan suaminya Adi Saputra, 28 tahun, serta tiga buah hatinya menempati sebuah kamar kontrakan yang mereka sewa dari salah satu kerabat suaminya.

“Sewanya dua ratus ribu sebulan, bayarnya cicil setiap hari biar nggak terasa berat,” ujar Nurhayati.

Di kamar itu, hanya ada selembar kasur busa berlapis seprai berwarna terang. Sebuah rak piring kecil digantung ke dinding. Di dekat pintu kamar ada meja kecil dengan sebuah dispenser. Selebihnya tak ada perabotan atau barang apa pun di kamar yang mereka sebut sebagai rumah itu. Sementara untuk memasak, ada dapur yang digunakan bersama-sama penghuni kontrakan lainnya. Begitu juga untuk sarana MCK.

Nurhayati menurunkan Bunga dari gendongan. Lantas menidurkannya di samping putra keduanya yang sedang terlelap. Dengan posisi seperti ini kondisi Bunga jadi terlihat jelas. Ia tampak kurus. Tidak tumbuh laiknya anak seusianya. Bunga mengalami gizi buruk. Dan untuk alasan itulah KSDA datang hari itu.

“Kami datang untuk bersilaturrahmi, melihat kondisi Bunga, mudah-mudahan bisa membantu,” kata Ketua KSDA Banda Aceh, Saddam Alfiya.

Dari kamar itu pula sehari-hari keluarga kecil itu mengakrabi kemiskinan yang menjerat mereka. Suami Nurhayati, Adi Saputra, bekerja sebagai pengamen dengan penghasilan sekitar 20-30 ribu perhari. Saat kami datang hari itu Adi sudah berangkat ‘bertugas’ seperti biasanya. “Abang baru pulang tengah malam nanti,” kata Nurhayati.

Nurhayati yang sebelumnya sempat berjualan lontong, beberapa bulan terakhir memutuskan tidak berjualan lagi. Ia jadi punya banyak waktu untuk merawat anak-anaknya, khususnya Bunga yang butuh perhatian khusus. Namun otomatis penghasilan keluarganya ikut menurun.

“Sekarang hanya mengandalkan pendapatan suami yang tidak seberapa,” kata Nurhayati lagi.

Dengan pendapatan suami yang tidak memadai itu, hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Nurhayati pun terpaksa menutup mata untuk tidak memenuhi asupan nutrisi anak. Pada kondisi Bunga yang seperti itu ia hanya bisa pasrah. Tidak bisa berbuat apa-apa. Jika sedang ada rejeki lebih ia memberikan susu formula untuk Bunga. Jika tidak, hanya air putih yang diberi campuran gula. Saat ini kata Nurhayati kondisi Bunga sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Bahkan putra sulungnya yang sudah berusia enam tahun belum bisa merasakan bangku sekolah karena tidak ada biaya.

Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya kartu identitas lengkap dari keluarga tersebut setelah terbakar bersama rumah yang mereka tempati sebelumnya. Hal ini pula yang membuat mereka tidak pernah mendapatkan bantuan apa-apa dari pemerintah seperti beras bersubsidi untuk masyarakat miskin.

Nurhayati berdalih, ia tak bisa mengurus KTP baru karena belum ada surat pindah dari kampungnya di Sibolga, Sumatera Utara sana. Sementara untuk pulang dan mengurus surat pindah baru ia tak punya biaya.

Ketua KSDA Banda Aceh Saddam Alfiya mengaku prihatin dengan kondisi keluarga Nurhayati. Ia juga menyesalkan di kota besar seperti Banda Aceh masih ada bayi yang mengalami gizi buruk.

“Kalau dilihat secara fisik kondisi Bunga belum terlalu parah, jika cepat diatasi insya Allah kondisinya bisa membaik,” ujar Saddam.

Saddam berharap Nurhayati dan keluarganya bisa lebih proaktif agar bisa mendapatkan hak mereka sebagai warga negara. Mereka juga membuka rekening donasi untuk membantu keluarga miskin tersebut. Bagi donatur yang ingin menyumbang bisa transfer ke 0611195745 (BNI) a.n. Cut Rizki Azura. Untuk konfirmasi kirimkan bukti transfer ke 0811-6823-332 (WA/SMS).

Di sisa waktu siang hari itu, tidak seperti biasanya kamar yang selama ini ditempati Nurhayati dan keluarganya menjadi ramai dan riuh. Gelak tawa mewarnai saat di antara mereka mencandai Bunga.

Dari posisi tidur Bunga hanya bisa menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Sesekali ia tergelak, dengan suara yang mirip seperti erangan. Ia tampak girang saat Saddam menyemprotkan air zamzam ke tubuh mungilnya yang kisut. Sensasi dingin barangkali membuatnya terasa geli.

Menjelang azan Asar kami semua pamit. Tentunya dengan meninggalkan harapan agar bayi itu bisa tumbuh mekar dan cantik sesuai namanya; Bunga.[]