Karya Taufik Sentana
1//
Hujan mencumbui malam
sejak senja tadi.
2//
Ada tukang roti yang lewat. Ia menawarkan puisi yang dicampur cokelat dan keju
“Tolong pisahkan puisinya, ya.”
Kata seseorang di tepi teras, suaranya hampir tak terdengar karena suara hujan.
3//
Sambil menunggu lampu yang akan menyala sebentar lagi, biarlah kuhangatkan rindu kita
walau dengan cahaya lilin.
4//
Malam yang hampir larut
mengangsur sepi-sepiku. Malam dan sepi itu
merobek lembar hari kemari. Lalu kuselipkan di balik lipatan kata-kata.
5//
Ada kucing yang kedinginan.
Ia tak mengatakannya.
Ada daun-daun yang masih basah
dan tertunduk malu karena angin yang menggodanya.
6//
Aku rebahkan tubuhku.
Ada penat yang datang dari jauh.
Penat itu mengetuk-ngetuk punggungku.
Dari Kumpulan Puisi “Seni Menikmati Hidup”
Taufik sentana, 2016, Meulaboh.



