ADA banyak alasan kenapa seseorang menjadi guru (atau akhirnya menjadi guru). Motivasi paling murni adalah adanya keinginan untuk mengamalkan ilmu dengan cara mengajarkan dan menanamkan nilai dalam diri siswa. Dengan motivasi ini seseorang akan berada dalam jalur beramal jariyah, suatu aktivitas amal tiada putus.

Hilangnya motivasi ini akan menjadikan aktivitas guru sebagai transaksi ekonomi belaka, tanpa gairah dan perbaikan dalam diri siswa.

Fungsi guru yang kompelit,  penuh tuntutan dan tanggung jawab menyebabkan posisi guru sangat menentukan  dalam sistem pembangunan masyarakat. Diakui pula bahwa guru menjadi ujung tombak pendidikan, karena ia langsung berhadapan dengan lingkungan belajar siswa secara formal.

Saat Indah Itu..

Dalam melaksanakan tugasnya banyak faktor yang memengaruhi capaian kerja guru. Banyak pula pernak pernik interaksi edukatif yang terbangun bersama para siswa  diiringi  pengalaman yang melingkupinya. Seorang guru yang bijak akan dapat memaknai bahwa kenangan pahit dan manis dalam tugasnya akan menjadi lukisan keindahan tersendiri.

Sudah pasti bahwa saat indah menjadi guru bukanlah ketika ia diangkat penjadi pegawai negeri. Sebab, bila hanya ini, maka keindahannya akan sirna setelah ia mendapat SK 100%.

Walau menjadi PNS tampaknya lebih nyaman dila dibanding dengan guru bakti yang umumnya digaji di bawah UMR (sangat tragis karena tidak ada payung hukum khusus). Bahkan ada yang dikontrak hanya dengan nilai 500 ribu perbulan. 

Namun bila berkaca pada makna seorang guru dan keindahan yang layak dituliskan, maka ada beberapa poin yang bisa menjadi refleksi.

Pertama,  saat sang guru dapat membawa siswa kepada pengertian yang baru. Ini bentuk kognivisme, tapi dalam pendekatan modern, pemahaman siswa dibangun secara bersama dengan keterlibatan siswa, bukan semata lewat penyampaian verbal dan monoton.

Kedua, saat capaian pemahaman itu berdampak pada perilaku siswa. Ketika ia belajar Ekonomi, muncul sesudahnya sikap produktif, berkarya dan hemat. Begitu juga saat belajar Biologi, siswa sampai pada kesadaran bahwa semua desain makhluk, dari unsur hidup terkecil semuanya dalam kendali Allah sebagai Pencipta dan Pengatur.

Ketiga, terbangun hubungan saling menghargai, memperbaiki dan mendukung. Aspek ini kiranya tak akan tergantikan dengan teknologi secanggih apapun. Sebab dengan hubungan ini, sifat sifat kemanusiaan kita akan terealisasi. Dan seorang guru dengan kecakapannya akan dapat menghidupkan potensi terbaik dari siswa. Entah itu dengan pendekatan personal di kelas atau dengan bimbingan khusus tertentu.

 Hubungan yang terbangun ini menjadi perekat walaupun sang murid  sudah pindah ke jenjang selanjutnya atau bahkan sudah bekerja. Lebih indah lagi bila keduanya (guru dan murid tadi) saling mendoakan meskipun mereka tak lagi bertatapan di kelas.

Maka hilangnya poin di atas dalam interaksi di sekolah akan menyisakan kepahitan yang tiada penawarnya selain meminta bimbinganNya. Sebab selalu saja kita jumpai perilaku siswa yang menyimpang dan tidak menunjukkan sikap menghargai dan menghormati gurunya yang pernah memberi “warna” (batu bata kecil) dalam bangunan cita yang ia capai kini.

Semoga Alllah selalu Merahmati para guru kita.[]

Penulis: Taufik Sentana,
Berkhidmat untuk pendidikan Islam sejak 1996.
Kini sebagai Guru Quran dan Bahasa Arab di MTs Harapan Bangsa. Juga sebagai anggota Tim Pengembang SMPIT Teuku Umar Meulaboh. Pernah mengabdi di Yusriyah Langkat, Misbahul ulum Lhokseumawe dan MTsN Model Meulaboh.