Dengan langkah teguh, Wakil Bupati (Wabub) Pidie, M Iriawan, turun dari mobilnya pada , pada Senin, 25 Januari 2016. Ia berjalan menuju ke sebuah rumah. Namun segala yang didapatinya di sana membuat langkah teguh dan ekspresi wajahnya yang semula bersemangat, mendadak kuyu.

Dalam mengunjungi anak asuh Pidie Mengajar itu, Wabup segera meminta aparatur di bawah lebih peka. Ada yang mengindikasikan bahwa mereka selama ini telah lalai.

Anak-anak asuh Pidie Mengajar yang dikunjungi ini umumnya dari keluarga amat miskin dan terlantar. Wabup yang didampingi Kadis Pendidikan dan pengurus Pidie Mengajar, Ismail von Sabi dan Said Safwatullah.

Dalam kesempatan pertama Wabup ke rumah Nek Meulu 74 tahun. Nenek renta ini mengasuh 8 cucunya. 

“Mereka ditinggal ayah dan ibunya menikah lagi,” kata Nek Meulu. Sehari harinya ia menjadi buruh tani dan menuntun tunanetra mengemis.

Di gubuknya yang terletak di seberang SMP 1 Delima ia tinggal bersama cucunya. Rumahnya sudah hampir rubuh dan atapnya sudah bocor di sana-sini. Selama ini dia sudah mencoba mengadu ke mana-mana. Tapi bantuan rumah dan lain-lain belum ada. 

“Mungkin karena cucu saya bukan anak yatim,” ucapnya lirih.

Dari sana Wabup bersama rombongan juga bertandang ke Gampong Pante Garut, Kecamatan Indrajaya. Di sana juga terdapat lima anak asuh dalam satu keluarga. Kelima anak Ilyas AR ini ditinggal ibunya menikah lagi. Ayahnya Ilyas sehari harinya adalah pedagang asongan rokok. Dari lima anak Ilyas, tiga di antaranya mengalami gizi buruk.

Ilyas bersama anaknya hanya tinggal di gubuk sangat sederhana pemberian orang di bawah rumpun bambu. Gerakan Pidie Mengajar saat ini punya sekitar 30 anak asuh. Setiap bulan tiap anak mendapat 150 ribu. 

“Kami juga menyalurkan berbagai kebutuhan sekolah dan kebutuhan dasar lainnya secara insidentil berdasarkan sumbangan donator,” jelas Ismail von Sabi.
“Umumnya kami mengagalang melalui media sosial atau melobi langsung dermawan,” jelas manager Pidie Mengajar, Said Safwatullah. Dalam kesempatan itu Wabup mengaku amat terpukul. 

“Pendataan orang miskin masih ada kekurangan. Seharusnya aparatur paling bawah seperti geuchik dan kepala dusun lebih peka,” pintanya. Ia juga mengapresiasi Pidie Mengajar atas kepedulian mereka. 

“Alhamdulillah, masih ada orang iklas seperti mereka mau melakukan hal-hal yang seharusnya tugas pemerintah.”

Dalam kesempatan itu Wagub juga berharap kepada Dinas Pendidikan untuk memantau agar anak-anak itu tidak putus sekolah. 
“Butuh pendampingan khusus Dinas Pendidikan agar mereka tidak putus sekolah,” perintahnya.

Wabub kembali meminta aparat di bawah bekerja dengan ikhlas untuk memantau kemiskinan akut. 

“Seharusnya dua keluarga ini mendapat rumah duafa. Tanah ada sebagai persyaratan utama, kenapa juga mereka luput dari perhatian?” tanya Wabup.

Dalam kesempatan itu Wabub segera memanggil dinas terkait untuk mencari jalan keluar agar program pemerintah tepat sasaran.[](tyb)