Latar belakang saya bukan GAM, tapi kita semua, termasuk saya, juga memberi dukungan pada GAM saat konflik dulu. Mengapa terjadi konflik di Aceh, lama ke lamaan, kita kan pasti tahu apa alasan yang sebenarnya. Saya kira tidak ada yang salah dengan perjuangan GAM. Oleh karena itu, karena saya orang Aceh, saya kira saya juga wajib memperkuat Partai Aceh.
==========
SEORANG perempuan paruh baya duduk di balai bambu. Di sampingnya tergeletak sebuah ember hitam yang dipenuhi asinan salak dan rujak yang telah terbungkus dalam kantong plastik kecil.
Lima, sepuluh ribu, ujar perempuan paruh baya tersebut.
Di depan perempuan itu duduk, seorang pria tua tengah memasang kail pancing. Ia mula-mula melilit tali pancing di jempol kakinya. Sejurus kemudian, ia memasangkan kail pancing pada tali tersebut dan menancapkan benda itu pada sebatang pelepah rumbia.
Harus ada minimimal 120 buah. Untuk persiapan sebelum ke laut, kata dia sambil melanjutkan pekerjaannya itu.
Balai bambu itu berada di dalam sebuah bangunan yang beratapkan daun nipah. Ia disangga 14 tiang beton dengan lantai keramik motif batu alam. Jambo Nelayan, begitu nama dan sebutan yang dikenal orang-orang untuk bangunan yang terletak di belakang Taman Kota Sigli, Pidie, itu. Posisinya agak menjorok ke dalam.
Orang-orang lalu-lalang. Beberapa dari mereka pergi ke belakang bangunan tersebut, mengambil wudhu di tempat wudhu, yang juga dilengkapi kamar mandi beton. Tempat wudhu dan kamar mandi itu, kira-kira, seluas 3 x 2 meter.
Mereka kemudian menunaikan salat Ashar di mushala yang serupa dengan rumah panggung. Sebagian lainnya duduk di balai bambu di dalam Jambo Nelayan. Ada yang bersandar pada tiang-tiang beton. Ada yang langsung merebahkan tubuh mereka di atas dipan bambu. Gelak tawa, gurauan, dan makian, menggantung di udara. Membahana.
Di sisi kanan bangunan tersebut, perahu-perahu mesin nelayan berjajar di pinggir sungai.
Sebelumnya, kata penjual minuman di kedai minum yang ada di dalam Jambo Nelayan, Zulkifli Husen, Sabtu, 5 November 2016, kami hanya punya balai bambu reot. Uangnya hasil dari kami patungan.
Kata dia, Jambo Nelayan baru berdiri sekitar dua tahun. Bantuan Negara. Saya tidak tahu apa namanya. Yang jelas, itu atas usaha Bang Wan. Malahan, dia tambah uang pribadinya, ujar Zulkifli Husen.
Orang-orang di sana memanggil Muhammad Iriawan dengan panggilan Bang Wan.
Zulkifli melanjutkan, biasanya, saat Muhammad Iriawan tidak sedang berada di luar daerah, pria bertubuh jangkung tersebut menyambangi tempat ini sampai lima malam berturut-turut. Akan tetapi, kadang, kalau dia sibuk, sampai satu minggu hingga lima belas hari dia tidak datang.
Di sana, ujar Zulkifli Husen, menunjuk ke arah satu sudut Jambo Nelayan, Bang Wan biasanya duduk.
Kali ini Zulkifli Husen menunjuk ke arah mushala. Sambil menyeduh kopi pelanggannya, ia berujar, Waktu magrib, kalau ada Bang Wan di sini, dia yang jadi imam.
Gelas dekat ini, ya, jangan sampai saya lempar ke mukamu, kata seorang pria berkulit gelap dengan nada bicara yang tinggi. Sesekali aku ke sini, begitu lagu kau ya
Kata-kata itu kemudian dibalas dengan gelak tawa yang nyaring dari seisi ruangan. Si pria yang berkulit gelap, yang dipanggil dengan nama Bang Hasan, itu, pun ikut tertawa terkekeh.
Pria tua bermata sipit, yang tadinya tengah tidur tengkurap, melanjutkan gurauannya. Ia menirukan suara kucing. Cing, cing, pus, pus
Bang Hasan mengeluarkan cacian dan makian dalam bahasa Aceh. Ia kemudian ikut tertawa terbahak bersama yang lainnya.
Sebentar kemudian, seorang pria lainnya berjalan dengan menjinjitkan kaki. Ia berjalan menuju ke arah seorang pria yang sedang duduk melamun. Dengan kedua belah tangan ia menggelitik pinggang si pria yang tadinya sedang duduk melamun.
Makian dan gelak tawa kembali pecah.
Makian mereka hanya di mulut, kata Zulkifli Husen, menempelkan jari telunjuknya di bibir. tetapi tidak di hati!
Zulkifli Husen tengah menyapu lantai Jambo Nelayan tatkala seorang perempuandalam balutan baju kurung dan jilbab merah jambudatang untuk mengambil uang kue.
Saat berpapasan dengan perempuan itu, Zulkifli mengangkat gagang sapu, seolah ia sedang bermain gitar. Ia kemudian pergi ke belakang.
Tadi pagi, ujar perempuan itu pada seorang pria yang duduk di hadapannya, Abang ke mana? Kok tidak nampak?
Sembahyang Subuh di laut tadi Abang, Dik, ujar pria itu dengan gaya bicara yang dibuat-buat.
Perempuan itu hanya menyeringai.
Ini, kata Zulkifli Husen, menyerahkan sejumlah uang pada perempuan yang menitipkan kue dagangannya di kedai Zulkifli. Yang ada mudah rezeki.
Alhamdulillah, balas perempuan itu.
=========
MUHAMMAD IRIAWAN, pria kelahiran Sigli 30 November 1961, adalah Wakil Bupati Kabupaten Pidie periode 2012-2017. Untuk kedua kalinya, ia dipercaya oleh PA/KPA Pidie untuk mendampingi H. Sarjani Abdullah, dalam pertarungan politik: Pemilihan Kepala Daerah 2017 mendatang.
Muhammad Iriawan mulai akrab dengan laut dan nelayan sejak 2001 silam. Pria berkulit sawo matang itu berkisah, pada 2001, setelah Kantor Departemen (Kandep) Koperasi dan Pembina Pengusaha Kecil (pada 2003 berubah menjadi Dinas Koperasi dan UKM) dibakar, selama tiga tahun, kantor tersebut vakum.
Pada tahun itu, Muhammad Iriawan menjabat sebagai Kasi Koperasi Kandepkop dan PPK Pidie.
Seluruh peralatan kantor, dari kertas hingga komputer mula-mula dipindahkan ke rumahnya di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. Belakangan, setahun berikutnya, aktivitas kantor tersebut berpindah ke salah satu ruko di alun-alun Kota Sigli, Pidie.
Dulu, saya hobi mancing di pinggir sungai. Maka, pada awalnya, saya coba-coba berkawan dengan mereka yang melaut. Nelayan, kata dia, Minggu 6 November 2016, di kediamannya di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie.
Setelah beberapa kali dan kian sering pergi ke laut, Muhammad Iriawan akhirnya mulai akrap dengan para nelayan yang sering mangkal di kawasan Kuala Pidie, yang rata-rata berasal dari Pasirawa, Gajahe, Lampoh Krueng, dan Rawa Pidie.
Saat itu, di darat, kontak senjata dan berita tentang perang selalu kita dengar. Jadi, saya pergi ke laut untuk melepas penat, kata ayah satu anak itu.
Surya Dharma, 45 tahun, warga Gampong Kuala Pidie, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, masih mengenang penampilan Muhammad Iriawan saat awal mula ia main-main ke Kuala Pidie.
Dengan celana training, kaus, dan topi jerami, ungkapnya.
Ia bercerita, karena baru mengenal laut, Muhammad Iriawan pernah menaiki perahu dayung untuk memancing ikan pada saat musim angin. Nelayan tidak melaut, tetapi beliau justru ke laut, kata Surya Dharma, yang saat itu masih berprofesi sebagai nelayan.
Kelak, Surya Dharma menjadi supir Muhammad Iriawan di laut dan di darat.
Anehnya, meskipun suka mancing ke laut, beliau tidak bisa berenang sampai sekarang, tutur Surya Dharma.
Tempat itu (Jambo Nelayan/tempat nelayan sebelumnya) adalah tempat paling nyaman bagi saya untuk bersantai. Di situ tidak ada cerita-cerita tentang kejelekan orang lain, tidak ada cerita tentang politik praktis. Yang ada, ya , urusan mereka sendiri, tentang melaut dan memancing, kata Muhammad Iriawan.
SUATU malam di tahun 2012, ada rapat dinas-dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pidie di pendopo bupati. Setelah rapat berakhir, Muhammad Iriawan melihat tokoh-tokoh Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pidie di ruang tamu pendopo Bupati Pidie.
Mereka duduk dengan Mirza Ismail, Bupati Pidie periode 2007-2012. Hal yang dibahas adalah tentang pencalonan Bupati dan Wakil Bupati Pidie untuk periode berikutnya, tutur lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, itu.
Saat itu, Muhammad Iriawan menjabat sebagai Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Pidie.
Memang, kata Muhammad Iriawan, ada desas-desus bahwa ia akan dicalonkan sebagai Wakil Bupati Pidie, mendampingi mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Pidie (2003-2005), Sarjani Abdullah. Namun, lanjutnya, itu baru sebatas kabar burung.
Malam setelah rapat di pendopo, pasti sudah ada keputusan, gumam Muhammad Iriawan dalam hati.
Merasa semua sudah jelas dan pun ia merasa kabar burung tersebut telah berlalu, seperti biasa, Muhammad Iriawan pergi ke laut pada sore hari. Kira-kira pukul 21.00 WIB, tiba-tiba, Muhammad Iriawan dihubungi oleh salah seorang petinggi KPA Wilayah Pidie dan KPA Pusat via telepon selular.
Di mana, Bang? tanya salah satu tokoh KPA Pidie tersebut.
Di laut, sedang mancing. Santai-santai, jawab Muhammad Iriawan.
Asyik mancing saja Tolong pulang sebentar, kami ada perlu dengan Abang.
Lalu, salah seorang petinggi KPA Pusat, Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak, bicara dengan Muhammad Iriawan via sambungan telepon tersebut.
Kami perlu sama Abang sebentar. Kami ke rumah Abang sebentar lagi, ya, kata Abu Razak.
Muhammad Iriawan kemudian pulang ke rumah. Waktu tempuh dari laut, tempat ia memancing ikan, ke darat sekitar 20 menit dengan perahu mesin.
Sesampainya di rumah, Muhammad Iriawan berkata pada Istrinya, Elfiza Hasni Yusuf, Sebentar lagi akan ada tamu ke rumah. Tolong siapkan kue-kue dan minuman, ya.
Lelah menunggu para tamu tersebut hingga pukul 23.00 WIB, Muhammad Iriawan berujar pada sang istri, Ayo, kita tidur.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, Said Mulyadi (kini Wakil Bupati Pidie Jaya) menelpon. Sang istri, Elfiza Hasni Yusuf, yang mengangkat telepon tersebut.
Tatkala Muhammad Iriawan membuka pintu depan rumahnya, Said Mulyadi sudah berada di beranda rumah.
Itu, kata Said Mulyadi, tersenyum lebar, sudah ditunggu di kantor PA.
Beberapa menit kemudian, pergilah Muhammad Iriawan ke sana dengan Said Mulyadi.
Di sana, sudah lengkap semua. Abu Razak, Darwis Jeunib, Aiyub Abbas, dan petinggi KPA wilayah dan KPA pusat lainnya sudah ada, kata Muhammad Iriawan.
Menurut saya, ada tolak-tarik mengenai pemilihan Wakil Bupati Pidie saat itu, sehingga KPA Pusat mengambil inisiatif untuk turun tangan guna menengahi hal itu, ungkap Muhammad Iriawan.
Neubantu kamoe, bek neuse-se, ujar Muhammad Iriawan, menirukan ucapan seorang petinggi KPA Wilayah Pidie padanya saat itu.
Insyaallah semampu saya. Tapi , saya tidak mampu sebenarnya, jawab Muhammad Iriawan.
Besok, tolong balik ke sini, kita bikin pertemuan dengan semua sagoe, ungkap salah seorang petinggi KPA Wilayah Pidie saat itu.
Keesokan harinya, sekitar pukul 15.00 WIB, kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PA Pidie disesaki sekitar 300-an peserta rapat.
Ketika giliran Muhammad Iriawan mendapat kesempatan bicara di atas mimbar, saat itu, khalayak di dalam kantor PA Pidie tertawa karena Muhammad Iriawan bicara apa adanya. Sambutan dari PA Pidie, kata Muhammad Iriawan, sangat bagus.
Saya tidak paham tentang bagaimana nantinya menjadi wakil bupati. Jabatan yang sudah ada saja, sudah cukup tinggi, ungkap Muhammad Iriawan pada khalayak rapat. Tapi, dengan kepercayaan Anda sekalian, saya akan menjalankan tugas tersebut semampu saya.
Tak terdengar kesan membanggakan diri dalam nada bicara Muhammad Iriawan saat ia menceritakan kisah itu.
Tatkala ditanya apa makna Partai Aceh bagi dirinya, ia menjawab dengan nada bicara yang tegas dan teratur, sambil mengeluarkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PA dari dompetnya: Latar belakang saya bukan GAM, tapi kita semua, termasuk saya, juga memberi dukungan pada GAM saat konflik dulu. Mengapa terjadi konflik di Aceh, lama ke lamaan, kita kan pasti tahu apa alasan yang sebenarnya. Saya kira tidak ada yang salah dengan perjuangan GAM. Oleh karena itu, karena saya orang Aceh, saya kira saya juga wajib memperkuat Partai Aceh.
Ia melanjutkan, pasca-damai pada 2005 silam, di situlah momentum bagi dirinya untuk memberikan dukungan yang lebih nyata.
Perang untuk membuktikan bahwa GAM juga punya kemampuan untuk memerintah dengan dibantu oleh semua elemen masyarakat Aceh. Saya rasa, ini bukan hanya persoalan GAM, tapi persoalan seluruh masyarakat Aceh, tuturnya.
Saya juga harus terlibat dengan pola pikir dan cita-cita mereka. Saya hayati pelan-pelan. Dan Alhamdulillah, itu semua bisa kita lakukan apabila kita ikhlas. Ikhlas berbaur, membawa diri seperti mereka. Tapi saya juga tetap menunjukkan perbedaan latar belakang saya dengan mereka, sehingga mereka juga harus tahu bahwa yang tengah mereka pegang adalah jabatan di pemerintahan yang masih dalam bingkai NKRI. Dan satu lagi, jangan sampai mereka lupa pada apa yang sudah diperjuangkan. Merdeka dalam konteks, di mana orang Aceh memiliki martabat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sebenarnya, mereka sudah dapatkan itu. Sekarang tinggal diatur dengan baik. Ikhlas saya bantu karena saya orang Aceh. Bukan karena ada tujuan lain, misalnya, karena jabatan. Bukan karena itu.
PULUHAN TAHUN SILAM, Muhammad Iriawan kecil adalah seorang pembaca yang rakus. Latarbelakang bapaknya, Drs H Ismail Hasan, sebagai guru dan dosen bahasa Inggris, menjadikan rumahnya bukan hanya sebagai tempat berteduh bagi keluarga melainkan juga menjadi sebuah perpustakaan.
Tatkala pulang dari luar daerah, selain mainan, Bapak selalu membawa pulang buku cerita sebagai oleh-oleh. Saat itu, kan, tidak ada televisi, jadi ya , membaca sebagai hiburan, kenang Muhammad Iriawan. Sejak kecil saya sudah tahu bagaimana Majalah Times. Bapak berlangganan majalah itu. Makanya saya tahu tentang Perang Vietnam di zaman Presiden Nixon. Ya, walaupun saya tidak paham isinya, tapi ada gambar-gambar di majalah itu, kan, sudah bisa kita bayangkan, bagaimana saat Perang Vietnam dulu, sampai orang yang digantung, ditembak, anak-anak kecil yang telanjang, berlarian, dibom oleh tentara Amerika. Dan debat-debat Presiden Amerika, sejak kecil saya sudah tahu, bahwa ada debat dalam pemilihan presiden. Dari gambar-gambar majalah itu.
Di rumah, sang Bapak, mula-mula, mengajari enam anaknya membaca melalui cerita bergambar.
Kebiasaannya membaca buku cerita bergambar dan melihat gambar-gambar di majalah ternyata berpengaruh pada bakat melukis Muhammad Iriawan kelak. Sedari sekolah dasar, ia hobi coret-coret di kertas. Saya belajar melukis secara otodidak. Saya melukis huruf dan melukis wajah manusia. Untuk melukis pemandangan saya kurang bisa, mewarnai juga saya kurang bisa. Saya melukis karikatur, wajah manusia, dengan pensil karbonik. Cuma sudah lama saya tinggal itu, tuturnya.
Ketika sedang duduk-duduk dengan kawan, Bang Wan bisa lukis wajah kawan-kawan dalam bentuk karikatur, tutur teman Muhammad Iriawan, Ilyas Ali. Pada saat lebaran, dulu, Bang Wan membuat karikatur untuk kartu lebaran. Untuk lucu-lucu. Ini untuk Abua Kanto, Bang Safwan, misalnya.
Dia pernah menggambar gapura di Blang Paseh pada saat 17 Agustus. Dulu, ujar salah seorang teman Muhammad Iriawan lainnya, Ir Bustami MS.
Saat sang bapak, Drs H Ismail Hasan, menjabat sebagai Kandep Pendidikan di Pidie, pada tahun 1982, keluarganya pindah dan tinggal di Gampong Blang Paseh.
Rumah di Lampineung, Banda Aceh, sudah kosong. Jadi, anak-anak muda Blang Paseh yang kuliah di Banda Aceh, tidur dan tinggal di sana. Tanpa sewa. Akhirnya, jadi rumah orang Blang Paseh. Siapa saja orang Blang Paseh yang pergi ke Banda Aceh, akan tidur di rumah, kata Muhammad Iriawan.
Pada 1982, Bang Wan sudah kuliah di Unsyiah. Apa Da dan saya tinggal di Taman Siswa. Tapi saya dan Apa Da sering ke Lampineung di tempat Bang Wan. Bang Yus, Bang Helmi, Bang Ki, Bang Lah, Bang Taufik, semua mahasiswa asal Blang Paseh yang kuliah di Banda Aceh, pos-nya di rumah Bang Wan, ungkap Ilyas Ali atau yang akrab disapa Apa Yeuk.
Lulusan Akademi Keuangan dan Perbankan itu mengatakan, dua tahun kemudian, saat keluarga Muhammad Iriawan pindah ke Blang Asan, Muhammad Iriawan muda tetap main ke Blang Paseh. Ketika sudah kerja di kantor Kandep Koperasi PPK pun, ia kerap nongkrong di Blang Paseh, kata Ilyas Ali.
Sisi lain Muhammad Iriawan, kata Ilyas Ali, adalah ia suka humor dan sering melucu ketika sedang ngumpul dan nongkrong di rumah Bang Safwan.
Di Gampong Blang Paseh pulalah, Muhammad Iriawan bertemu dengan Elfiza Hasni Yusuf. Sang istri. Pasangan tersebut dikarunia seorang putra, Haris Aulia.[]
* Penulis adalah Firdaus Yusuf, jurnalis lepas







