RENCANA pengibaran bendera Merah Putih di Gunong Halimon pada 17 Agustus nanti mengundang berbagai tanggapan. Kalau melihat tanggapan di media sosial cenderung negatif.
Media sosial saat ini menjadi semacam indikatif untuk menilai sebuah peristiwa. Peristiwa, isu atau sebuah ide akan jelas terukur pengaruhnya kalau dibicarakan di media sosial. Kita dapat melihat tingkat perhatian dan tanggapan publik dari sini. Walaupun tidak mewakili seluruh komponen masyarakat, tapi medsos menjadi semacam acuan.
Pengguna media sosial adalah mereka yang lumayan terpelajar. Mereka juga cenderung dari kelas menengah dan umumnya mapan. Tentu saja mereka amat berpengaruh dalam masyarakat.
Saat ini sebuah produk atau kebijakan juga diuji di medsos. Rencana pengibaran bendera Merah Putih di tempat GAM dideklarasikan tanggapan di medsos layak menjadi pertimbangan. Pihak penyelenggara atau sponsor layak menjadikan media sosial sebagai para meter. Artinya tanggapan publik dengan tujuan kegiatan layak diselaraskan.
Kegiatan itu jelas punya tujuan baik. Tapi apakah publik melihat ini positif. Bila memang kegiatan ini atas inisiatif TNI, jelas tujuannya untuk keutuhan bangsa ini. Tapi apakah ini agenda TNI atau ide orang per orang? Sebab melihat kecenderungan di medsos yang negatif, maka kegiatan ini akan merugikan citra TNI.
Dalam beberapa bulan ini citra TNI di Aceh sangat positif. Hal ini terkait upaya persuasif TNI dalam menyelesaikan kasus Din Minimi. Begitu juga ketika TNI berjibaku membangun jembatan darurat paska banjir di lintas barat selatan. Bahkan para prajurit mengorbankan momentum liburan Idul Fitri untuk menyelesaikan jembatan bailey di sana.
Nah bagaimana dengan rencana pengibaran bendera raksasa di Gunong Halimon? Apakah juga akan ditanggapi positif?
Mungkin di publik nasional akan ditanggapi positif. Tapi dipastikan di publik Aceh akan cenderung negatif. Oleh karena itu TNI atau pihak lain yang memprakarsai masalah ini harus berpikir ulang. Sebab jangan sampai niat baik malah menghasilkan energi negatif.
Seperti kita ketahui walau sudah 10 tahun damai, pemerintah pusat masih juga belum menyelesaikan janji sesuai kesepakatan. Bahkan UU Nomor 11 tahun 2006 tentan Pemerintah Aceh tidak juga dimplementasikan. Maka kegiatan pengibaran bendera di Halimon tersebut dikhawatirkan bisa kembali memancing kekisruhan baru.
Tingkat kesejahteraan rakyat Aceh yang masih rendah juga terkait dengan kebijakan pemerintah pusat. Apakah Zakaria Saman yang mendukung kegiatan ini bisa mewakili rakyat atau mantan GAM? Jelas beliau tidak mewakili umumnya mantan kombatan.
Bahwa beliau mantan petinggi GAM iya. Tapi dianggap mewakili sikap umumnya mantan GAM adalah salah. Deklarasi GAM 4 Desember 1976 adalah sejarah. Perdamaian ini bisa dianggap mengakhiri cita-cita merdeka. Tapi tentu hal-hal tentang sejarah itu jelas masih terekam di benak masyarakat Aceh.
Jadi bila peristiwa pengibaran bendera ini dilakukan sama seperti membuka borok. Luka yang sedang ditutupi akan kembali muncul ketika dicongkel. Alasan Zakaria Saman seperti ditulis media terkesan menyederhanakan masalah. Makanya tidaklah tepat kemudian suara dia menjadi acuan untuk mengambil keputusan ini.
Kita takut citra positif TNI dalam beberapa saat ini akan menjadi kembali luntur. Sebab pengibaran bendera di sana tidak berguna bila dinegatifkan publik Aceh. Bukankah sejarah tidak boleh dialihkan? Apakah dengan pengibaran bendera itu akan langsung mengubah persepsi masyarakat Aceh tentang deklarasi AM?
Jadi naif sekali bila kegiatan ini tanpa tujuan yang jelas. Para pihak tidak perlu menciptakan sensasi. Aceh sudah damai, jadi jangan lagi diungkit-ungkit dengan kisah itu. Karena jika rencana ini benar dilakukan pada 17 Agustus mendatang, dipastikan kisah 4 Desember 1976 akan kembali diulas panjang lebar. Dan ini akan membangkitkan romantisme lama.
Ego orang Aceh dan perasaan dihina akan menimbulkan antipati baru. Sudah sepatutnya semua pihak berhenti membuat konspirasi yang merusak rasa damai. Bahwa perdamain ini masih banyak meninggalkan luka.
KKR yang belum terwujud. Kasus pelanggaran HAM masa konflik juga belum selesai. Ribuan orang hilang hingga sekarang masih belum jelas dimana kuburnya. Korban konflik juga masih belum seluruhnya mendapat hak-haknya. Persoalan lain yang berjibun masih butuh perhatian. Banyak tugas lain bagi TNI untuk membangun Aceh. Memulihkan citra yang puluhan tahun sudah buruk di Aceh.
Jadi tidak perlu melakukan tindakannyeleneh untuk cari sensasi. Apalagi dengan hanya mendengar igauan Apa Karia yang karab jawai. Sejarah adalah kenangan. Dari situ kita bisa belajar. Sejarah tidak perlu direkayasa atau coba dihilangkan dengan sebuah tindakan yang tidak masuk akal. Semua harus kembali kepada kemaslahatan. Bahwa perdamaian Aceh juga perdamaian Indonesia. Dan TNI adalah bagian terintegrasi keduanya.
Untuk Pak Danrem anda sedang dipuji, jangan sampai mencari caci maki seperti pendahulu-pendahulu anda. Kepada Apa Karia kita berharap beliau perbanyak ibadah dan istikharah, agar ambisinya mendapat kekuasaan kemudian tidak mengencingi periuk nasi sendiri.[]


