Aceh Utara | Di tengah kuatnya tradisi dan nilai religius masyarakat Aceh, prosesi peusijuek atau tepung tawar masih terus hidup dan dijaga lintas generasi. Ritual adat yang sarat makna ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol doa, rasa syukur, penghormatan, hingga media perdamaian dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Dalam berbagai momentum penting, mulai dari penyambutan tamu kehormatan, pesta pernikahan, kenduri, khitanan, hingga keberangkatan ibadah haji, prosesi peusijuek hampir selalu hadir sebagai bagian yang tak terpisahkan. Tradisi ini menjadi bentuk harapan agar setiap langkah yang dijalani memperoleh keberkahan, keselamatan, dan ketenteraman.
Pada kenduri sunnatan rasul misalnya, anak yang akan dikhitan terlebih dahulu di-peusijuek oleh keluarga atau tokoh agama sebagai bentuk doa agar proses yang dijalani berjalan lancar dan sang anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh. Begitu pula pada acara syukuran keberangkatan haji, calon jamaah di-peusijuek oleh kerabat dan keluarga dengan harapan menjadi haji dan hajah yang mabrur.
Tradisi ini juga kerap dilakukan ketika menyambut tokoh penting atau tamu yang dimuliakan. Dalam suasana penuh penghormatan, percikan air tepung tawar disertai doa-doa menjadi simbol penerimaan, penghargaan, dan harapan baik bagi tamu yang datang.
Ritual yang Sarat Nilai Filosofis
Dalam bukunya Falsafah Peusijuek Masyarakat Aceh, Muliadi Kurdi (2012) menjelaskan bahwa pelaksanaan peusijuek biasanya dipimpin oleh tokoh agama, tokoh adat, atau tokoh masyarakat. Prosesi ini tidak hanya diisi dengan pembacaan doa dan nasihat, tetapi juga menggunakan berbagai perlengkapan adat yang memiliki simbol dan makna filosofis mendalam.
Prosesi peusijuek umumnya dihadiri keluarga besar, kerabat, dan masyarakat sekitar. Kehadiran mereka bukan sekadar menyaksikan ritual, tetapi turut memberikan doa dan restu bagi orang yang di-peusijuek.
Dalam masyarakat Aceh, peusijuek juga memiliki fungsi sosial yang sangat penting, yakni sebagai media rekonsiliasi dan perdamaian. Pada penyelesaian sengketa atau perselisihan antarwarga, prosesi ini menjadi simbol berakhirnya konflik dan dimulainya kembali hubungan persaudaraan.

Melalui peusijuek, kedua pihak yang bertikai diharapkan dapat saling memaafkan, menerima keputusan adat, dan menghapus dendam yang pernah terjadi. Nilai inilah yang membuat peusijuek tidak hanya dimaknai sebagai tradisi budaya, tetapi juga sarana memperkuat ukhuwah dan harmoni sosial.
Dalam prosesi tersebut biasanya turut disampaikan pesan-pesan adat dan petuah kehidupan agar pihak yang di-peusijuek dapat menjalani kehidupan dengan hati yang damai, penuh kesabaran, serta menjunjung kebersamaan.
Doa untuk Pengantin dan Kehidupan Baru
Pada prosesi pernikahan adat Aceh, peusijuek terhadap linto baro dan dara baro juga memiliki makna mendalam. Ritual ini menjadi doa bagi kedua mempelai agar memperoleh keberkahan rumah tangga, kehidupan yang tenteram dunia dan akhirat, serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah.
Nuansa haru dan sakral begitu terasa ketika keluarga secara bergantian melakukan peusijuek kepada pasangan pengantin. Tidak jarang, prosesi ini menjadi salah satu momen paling emosional dalam rangkaian adat perkawinan Aceh.
Alat dan Bahan Peusijuek
Setiap perlengkapan dalam prosesi peusijuek memiliki simbol dan filosofi tersendiri. Berikut sejumlah alat dan bahan yang biasa digunakan.
- Air dan Tepung Tawar
Air yang dicampur tepung tawar dipercikkan kepada orang atau benda yang di peusijuek sebagai simbol kesejukan, keselamatan, dan keberkahan.
- Beras dan Padi
Ditaburkan sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan harapan rezeki yang berlimpah.
- On Manek Manoe
Rangkaian daun berwarna-warni yang melambangkan keharmonisan, keindahan, dan kerukunan hidup.
- On Seunijuek
Daun ini menjadi simbol kesejukan hati, kesabaran, dan ketenangan dalam menjalani kehidupan.
- Naleung Sambo
Jenis rumput berakar kuat yang tumbuh di tanah keras ini melambangkan keteguhan, kekuatan, dan daya tahan menghadapi cobaan.
- Seunikat
Ikatan dari berbagai daun dan rumput dalam prosesi peusijuek yang menjadi lambang persatuan dan menyatunya nilai-nilai kebaikan.
- Bu Leukat Kuneng
Ketan kuning yang melambangkan perekat persaudaraan, kebersamaan, dan keharmonisan sosial.
- Dalong
Wadah atau tempat meletakkan perlengkapan peusijuek sebagai simbol keteraturan dan kesiapan adat.
- Sange
Penutup dalong yang melambangkan kehormatan dan kemuliaan.
- Doa
Bagian paling utama dalam prosesi peusijuek. Doa biasanya dipimpin oleh teungku atau tokoh agama untuk memohon perlindungan, keberkahan, keselamatan, dan ketenteraman.
Warisan Budaya yang Tetap Bertahan. Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, peusijuek tetap bertahan sebagai identitas budaya Aceh yang kaya nilai spiritual dan sosial. Tradisi ini tidak hanya merekatkan hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masyarakat Aceh menjunjung tinggi adat, doa, serta nilai perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi masyarakat Aceh, peusijuek bukan sekadar ritual adat. Ia adalah simbol penghormatan, penguat persaudaraan, dan warisan budaya yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Peusijeuk Wajah Pariwisata Halal dari Serambi Mekkah, Yang Mengguncang Dunia
Di tengah arus modernisasi industri wisata, Aceh memilih jalan berbeda. Provinsi paling barat Indonesia itu membangun sektor pariwisatanya dengan tetap berpijak pada nilai syariat Islam dan kearifan lokal. Konsep wisata halal yang dikembangkan bukan sekadar label, melainkan cerminan kehidupan masyarakat Aceh yang religius dan menjunjung tinggi adat budaya.
Teuku Muhammad Aidil, S, Ketua Ikatan Agam Inong Aceh meneybutkan, Peusijuek merupakan tradisi adat masyarakat Aceh yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur, permohonan berkah, keselamatan, dan ketenangan (sijuek) kepada Allah SWT.
“Tradisi ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh dan masih terus dipraktikkan hingga sekarang, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan,” ungkapnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Sementara Kata “sijuek” berarti dingin atau sejuk. Makna tersebut melambangkan harapan agar suasana menjadi damai, hati menjadi tenang, dan kehidupan dipenuhi keberkahan.
“Oleh karena itu, peusijuek sering dilakukan untuk mendinginkan keadaan serta memohon perlindungan dan keselamatan bagi seseorang,” paparnya.
Prosesi peusijuek biasanya dipimpin oleh tokoh agama atau tokoh adat. Upacara ini dilaksanakan pada berbagai momen penting, seperti pernikahan, kelahiran anak, menempati rumah baru, membeli kendaraan, keberangkatan haji, memulai usaha baru, hingga acara perdamaian setelah perselisihan. Selain itu, peusijuek juga sering dilakukan sebagai bentuk syukuran atas keberhasilan, seperti lulus wisuda atau tercapainya suatu cita-cita.
“Dalam prosesi pelaksanaannya, digunakan beberapa bahan utama yang memiliki makna simbolis, seperti air, tepung tawar, beras, padi, dan on seunijuek atau daun dingin. Air dan daun melambangkan kesejukan dan ketenangan, sedangkan beras serta padi melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup,” jelanya lagi.
Prosesi dilakukan dengan memercikkan air tepung tawar menggunakan dedaunan ke arah orang atau benda yang dipeusijuek. Setelah itu, dilanjutkan dengan doa bersama yang bernapaskan nilai-nilai Islam.
“Melalui doa tersebut, masyarakat berharap agar orang yang dipeusijuek memperoleh keselamatan, keberkahan, dan kehidupan yang lebih baik,” unngkapnya.
Bagi masyarakat Aceh, peusijuek bukan hanya sekadar tradisi adat, tetapi juga menjadi simbol persaudaraan, rasa syukur, dan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan serta sesama manusia.
“Karena itulah, tradisi ini tetap dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas budaya Aceh. Ini adat budaya yang harus dikemaskan dan di promosi ke penjuru dunia,” ulasnya. [adv]








