SIGLI – Tanjong Kayee Ara, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, sebuah kampung yang terpaut 3 kilometer dari jalan Banda Aceh-Medan. Di kampung itu, almarhumah Hj. Ainsyah binti Abubakar, ibunda H. Sarjani Abdullah berdomisili dan menghembus nafas terakhir pada Sabtu, 30 April 2016 sekitar pukul 16.30 WIB.
Sarjani Abdullah merupakan Bupati Pidie. Dia juga Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Aceh Kabupaten Pidie.
Hiruk pikuk warga melayat tak terhitung jumlahnya, baik warga setempat maupun dari luar kampung datang silih berganti. Selain untuk menyemangati keluarga yang ditinggalkan oleh almarhumah, mereka juga ingin menyumbangkan ala kadar doa, tahlil dan samadiah.
Tepatnya pukul 19.25 WIB, Senin 2 Mei 2016. Salah satu rombongan tamu dari Banda Aceh ikut melayat ke rumah duka. Kedatangan rombongan mendapat pengawalan polisi. Itu adalah rombongan Wakil Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem. Pria ini juga calon Gubernur Aceh periode 2017-2022 mendatang. Mualem diusung oleh Partai Aceh dan mendapat dukungan dari Komite Peralihan Aceh (KPA). Maklum, Mualem juga sebagai Ketua DPA-PA dan KPA Pusat.
Turut mendampingi Mualem antara lain anggota DPR RI Fadhlullah alias Dek Fadh, Wakil Bupati Pidie M. Iriawan, SE, Juru Bicara DPA-PA Suadi Sulaiman alias Adi Laweung, Sekdakab Pidie H. Amiruddin, SE,M.Si, Sekwan Aceh Utara Hasbullah Abdullah, dan sejumlah Kepala SKPK Pidie.
Di saat tuan rumah dan warga menyalami kedatangan Mualem, salah satu perempuan menghampiri deretan kursi tempat rombongan duduk. Perempuan setengah baya itu diketahui bernama Po Marisyah, warga yang tinggal di belakang rumah almarhumah.
Dengan ciri khasnya yang ceplas ceplos, Po Marisyah melihat lelaki berbaju biru kotak-kotak kombinasi hitam tersebut. Wanita ini pun bertanya kepada salah satu tamu yang ikut bersama Mualem.
“Hai Teungku, sang yang meubrewok nyan Pak Muzakir Manaf nyo? (Hai Teungku, kayaknya yang brewok itu Pak Muzakir Manaf ya?),” tanya Po Marisyah.
“Nyo Kak. Pakon teuma deungon Bapak nyan? (Iya Kak, kenapa memangnya dengan Bapak itu?),” ujar salah satu tamu di sana.
“Lon deungo gob nyan maju ke gubernur kali nyoe? Meunyo meunan, Bapak nyan wajeb menang, dan meunyo menang insya Allah lon hibah tanoh lhee hektar untok peugot pesantren bah na teumpat aneuk miet beut-beut. (Saya dengar dia maju untuk gubernur kali ini? Kalau memang iya, Bapak itu wajib menang dan kalau dia menang Insya Allah saya hibahkan tiga hektar tanah saya untuk bangun pesantren biar anak-anak tempat untuk mengaji),” kata Po Marisyah lagi.
Mendengar pernyataan Po Marisyah seperti itu, semua tamu melihat ke arah Po Marisyah seraya mengamini apa yang dikatakannya. Mengingat tamu yang datang semakin ramai dan rombongan Mualem hendak bertakziah, Po Marisyah pun pamit kembali untuk melaksanakan pekerjaannya di rumah duka.
Tak berhenti di situ saja, saat rombongan mau pulang, Po Marisyah pun meminta nomor handphone salah satu anggota rombongan Mualem untuk komunikasi lebih lanjut tentang pemenangan H. Muzakir Manaf di Pilkada 2017 mendatang.
“Pak Muzakir Manaf katroh neudjak dan beutroh neuwoe deungon selamat (Pak Muzakir sudah sampai di sini dan begitu sampai tujuan pulang dengan selamat),” ujar Po Marisyah mendoakan rombongan Mualem pulang.[](bna)




