Selasa, Juni 25, 2024

Yayasan HAkA Minta APH...

BANDA ACEH - Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh...

HUT Ke-50, Pemkab Agara-Bulog...

KUTACANE - Momentum HUT Ke-50, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara bekerja sama dengan...

Pemilik Gading Gajah Super...

BLANGKEJEREN - Satreskrim Polres Kabupaten Gayo Lues berhasil mengungkap kasus kepemilikan dua gading...

YARA Minta Polisi Transparan...

ACEH UTARA - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak kepolisian serius menangani kasus...
BerandaNewsSabar sebagai Penawar...

Sabar sebagai Penawar setiap Keadaan

Oleh Taufik Sentana*

Di antara keutamaan yang tinggi dan mengagumkan dalam pribadi mukmin ialah tatkala ia bersikap sabar. Sebagian ulama akhlak menjadikan sabar seiring dengan syukur dan menjadikan sabar sebagai separuh iman. Sabar dapat merangkum sifat zuhud, ikhlas, kanaah, rida, adil, takwa dan ihsan. Dalam hal takwa dan ihsan, misalnya, sangat mustahil keduanya dicapai tanpa sikap sabar.

Sabar secara bahasa berarti menahan dan mengekang. Lawan katanya adalah jazu', keluh-kesah, menggerutu, mencela dan amarah. Jadi, sabar merupakan suatu kondisi diri yang mampu mengendalikan dorongan negatif hingga tidak menimbulkan kerusakan. Kerusakan dimaksud bisa pada minusnya amal saleh, disharmoni interaksi antarmanusia dan gangguan pada struktur sosial yang lebih kompleks. Begitu dahsyat efek negatif yang muncul dari hilangnya sikap sabar.

Minusnya amal saleh, mungkin abstrak bagi kita, tapi rusaknya hubungan keluaga, suami dan istri bisa tampak nyata karena dipicu oleh ketidaksabaran. Bahkan rusaknya tatanan masyarakat atau kehancuran suatu pemerintahan selalu terjadi karena warga dan para pembesar atau pemimpin mereka telah menanggalkan pakaian sabar dalam gaya hidup  keseharian.

Adapun minusnya amal saleh, bisa menjadi konkret saat kita mengetahui faktor yang mendominasi perilaku keseharian kita. Bila dalam keseharian kita bisa berlaku taat, lapang dada, memberi dan memaafkan serta tidak berkeluh kesah dan serampangan, maka insyaa Allah amal saleh kita tidak rusak dan sikap tersebut pasti diganjar oleh Allah (“Bersabarlah sesungguhnya Allah tidak menghilangkan pahala orang orang yang berbuat ihsan/baik”, Q.S: Hud.)

Aplikasi sabar

Dalam keseharian sabar teraplikasi dengan bentuk perilaku ketataan seorang hamba, atau perilaku disiplin seorang warga negara. Sebagian lainnya aplikasi sabar akan selalu tampak saat musibah, sesuatu yang tidak disukai terjadi pada kita. Saat itu kita menahan diri untuk tidak mencela, menggerutu dan menyalahkan takdir. Sebab, Allah telah menjadikan musibah tadi sebagai penebus kelalaian kita, saat kita rela, maka ia akan berbuah pahala dan pertolongan Allah. Bagi seorang Muslim misalnya, sabar juga teraplikasi saat dapat menahan diri dari maksiat dan perilaku lainnya yang diharamkan. Baik itu berupa pikiran, ucapan ataupun tindakan.

Kesiapan kita untuk dapat terus meningkatkan kesabaran, sama halnya dengan menjadikan diri kita lebih cerdas secara rohani, lebih menyehatkan secara mental dan mendatangkan rahmat dalam keseharian kita. Saat Allah menyebutkan bahwa balasan bagi yang sabar adalah tak terbatas, maka itu menandakan betapa besar peluang kebaikan yang muncul dari perilaku sabar. Bila satu kebaikan adalah sepuluh ganjaran, maka bisa jadi ganjaran dari bersabar mencapai ribuan kali lipat dari kebaikan yang biasa.

Jadi, marilah bersama kita menjadikan sabar sebagai penawar dalam kondisi keseharian kita. Hingga susah dan senang, lapang dan sempit, rakyat dan raja sama-sama dilimpahi keberkahan.[]

*Taufik Sentana, Staf Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat.

Baca juga: