Sehari yang lalu penulis bersama seorang rekan (Abdi Darma) mengunjungi lokasi kebun kurma di Barbatee, Blang Bintang, Aceh Besar. Konon, kata “Barbatee” diambil dari lokasi awal masuknya Islam di Andalus, Spanyol, pada era Bani Umayyah yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad. Dari kata “Barbatee” itu pula yang menginspirasi Abangda Syukri untuk memelopori dan mengembangkan pertanian kurma.
Walau pada awalnya lokasi tersebut hanyalah Hutan Tanah Industri yang belum berdaya ekonomi (dalam kondisi terlantar). Namun dengan sentuhan keyakinan akan potensi ekonomi nonribawi, komitmen dan kerja sama dengan berbagai pihak, maka di tahun yang ketiga ini kebun kurma yang ia kembangkan telah mencapai ratusan pokok dengan lahan siap tanam tiga ratus hektare lebih.
Menurut pantauan penulis, dalam beberapa jam saja, ada ratusan pengunjung yang datang ke lokasi tersebut. Dari beragam pengunjung tersebut ada yang sekadar menjinakkan mata demgan tanaman kurma di hamparan bukit Barbatee yang bepadu dengan vila, mushalla, bangunan masjid, kantin, lokasi peternakan, kolam-kolam dsb.
Di sini, biaya masuk tidak dikenakan, mungkin untuk seterusnya akan begitu, kata Syukri selalu pengelola. Mereka bebas mau merespons positif atau negatif, mereka juga bisa menggali informasi seputar potensi kurma dan hal lainnya. Selain itu para pengunjung juga ada yang mencari bakal bibit yang layak tanam untuk koleksi di halaman rumah, ada juga yang sekadar ingin membeli kurma muda (Rp. 300.000/kg) dengan rasa istimewa yang disediakan untuk dujual.
Untuk tanaman kurma di lokasi ini baru bisa panen sekitar 4 tahun lagi, tentu dengan perawatan yang baik dan pupuk alami yang diprioritaskan Syukri.
Dalam sesi bincang kecil dengan pemilik lahan, penulis mencatat bahwa visi dalam pengembangan lokasi kurma ini bukan sekadar alternatif wisata agro dan bisnis semata. Tetapi ingin dijadikan sebagai model pengelolaan yang bebas dari unsur riba dengan menerapkan mudharabah murni (bukan mudharabah versi bank).
Di antaranya dengan memgelola potensi wakaf pohon kurma Rp 3.5 juta perbatang untuk pendidikan Islam. Dengan target wakaf sebanyak 1000 batang kurma. Untuk maksud tersebut pengelola telah bekerja sama di antaranya dengan Baitulmal setempat, tokoh agama dan kampus. Jadi, berkunjung ke kebun kurma Barbatee, kita bisa sekaligus bisa mengakses “potensi” wisata agro yang berpadu dengan ekonomi, pendidikan dan dakwah.
“Hendaklah kamu memerhatikan yang kamu makan (kutipan ayat Quran). Maka jadikan kurma sebagai tren baru untuk beberapa aspek kehidupan dan memperkuat peradaban kita. Kelak kita akan mengembangkan sekolah dimana gurunya cakap dalam mengajar, suka belajar dan mahir dalam menulis dengan gaji yang maksimal,” demikian imbauan dan harapan abangda Syukri di sesi bincang dengan penulis.[]
Penulis: Taufik Sentana, pegiat pendidikan Islam, sosial dan budaya. Menetap di Aceh Barat.



