Oleh Taufik Sentana*
“Seutama-utamanya iman adalah jika engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah bersamamu di manapun kamu berada.” HR. Thabrani.
Pintu masuk dan lorong bercabang
tiang tiang penyangga, jendela jendela kaca
Meja daftar. ruang tunggu.
No antre 666, oh! kambuh penyakit baru.
ada lorong khusus ke ICU.
Deretan kartu kartu
sejarah penyakit
dari kuku kaki ke kepala
dari isi badan dan jaringan saraf
dari maag ke jantung.
atau sekadar minta keterangan sehat
Suara panggilan,
suara ambulan
suara jerit-tangis , suara pintu ditutup-buka
bau obat, amis dan keringat.
Keluh kesah menguap
orang orang sakit saling tatap,
bicara sekena saja, senyum berat
dan tengkuk yang keram.
waktunya menebus resep, kecuali maut
(dengan apa resepnya?)
Perawat lalu lalang
orang orang keluar masuk
dokter ada di jam jenguk
Atap rumah sakit dipenuhi harap
dinding dinding kamarnya memantulkan harap,
Harap, kata mujarab kaum beriman:
harap itu muncul dari tulang rapuh
dari mata layu
dan bahkan dari tubuh terbujur.
Disana , di luar rumah sakit, harap itu muncul
dalam antrean yang masih panjang
hingga ke tepi jembatan
dan kamar kamar lapuk.
(Aku sakit” tapi engkau tidak menjenguk-Ku”)
dalam Sabda mulia HR Muslim dari Hurairah,RA.
Dan antrean tadi terus memanjang
hingga ke meja meja kantor yang kotor
(disini adakah jam jenguk bagi dokter?)
*Taufik Sentana
Guru, menikmati seni dan kreativitas, memilih setia pada kata kata sejak 1994. Sedang merampungkan antologi puisi “Password Kebahagiaan”.




