Oleh Taufik Sentana
Bila modernitas kita asumsikan sebagai semua citra tentang perubahan sosial pada setiap aspek kehidupan, maka sudah tentu tak ada yang dapat mengelak dari kemungkinan pengaruhnya, baik negatif ataupun positif.
Dalam struktur sosial yang dikembangkan Ibnu Khaldun, misalnya, ia mengakui adanya dominasi dan hegemoni atas setiap perilaku masyarakat atau bangsa. Hal itu berkaitan dengan superioritas masyarakat lain yang menjadi acuan. Maka wajar bila modernitas, dicitrakan sebagai warna Barat, baik dari segi ilmu dan teknologi, sistem sosial, nilai budaya dan semua unsur yang melingkupinya.
Walau sebagian kita masih tersadar bahwa peradaban Islam (kemoderenan dalam bentuk lain) pernah menjadi mercu suar dan memiliki romantisme tersendiri. Bahkan itu berlangsung enam ratus tahun sebelum kebangkitan Eropa. Tapi lewat corong globalisasi dan industrialisasi ala Barat, seakan semuanya tak terbendung. Semua mesti dipersepsi dengan bingkai “bahasa” mereka, termasuk syarat lulus sekolah, mesti sesuai standar Bahasa Inggris, yang sekaligus menjadi bahasa dominasi dan bahasa industri (dunia kerja).
Di hadapan kaum santri zaman now, modernitas tetap berdampak pada cara pandang tentang nilai ilmu, hiburan dan spiritualitas. Adalah tidak arif bila menolak seluruh unsur modernitas (misal menguasai TIK, digitalisasi), atau menerimanya secara buta tanpa seleksi. Sebagian lembaga tetap mempertahankan nilai tradisi belajar yang murni klasik, tapi akan menjadi gamang sendiri bila tak diimbangi dengan persiapan “realitas sosial” yang dilingkupi masyarakat. Sebagian lagi mencoba berdamai dengan asimilasi, pemilahan dan pemanfaatan secara selektif terhadap unsur modernitas tanpa kehilangan sikap spiritualitas, nalar dan inovasi karya. Sedangkan keterhanyutan akan “rasa modern” (semisal abai, materialisme, hedonis, serba bebas) itu menjadi catatan perbaikan untuk pendidikan para santri.[]
*Peminat Kajian Sosial Budaya
Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah Medan. Pernah mengabdi di Yusriyah Langkat dan Misbahul Ulum Lhokseumawe.


