Booming jagad pertelevisian dan berkembangnya era informasi-digital semakin menyuburkan budaya pop. Budaya yang dilatarbelakangi oleh prilaku instan, cenderung hedonis dan pragmatis. Dengan budaya ini pula setiap yang berkepentingan memenuhi ruang media massa, apapun bentuknya,  dengan bergam iklan dan produk gaya hidup.

Santri, yang menjadi basis citra dengan menempuh pendidikan Islam  klasik murni atau modern, tak lepas dari pengaruh budaya pop tadi, katakanlah efek televisi dan era  sosial media. Pengaruh ini menggiring prilaku santri kepada citra iklan yang ditampakkan sebagai suatu solusi dan bentuk kemajuan. Walaupun sistem pesantren dikenal dengan kultur nilai yang stabil, tapj bagaimanapun, santri sebagai individu yang dinamis dan berubah sangat potensial mengalami kegalauan nilai di tengah arus modernitas yang deras.

Adapun artis yang terlanjur disebut ” public figur “, menjadi lorong hasrat tersembunyi yang penuh gaya, populer, kaya dan berpengaruh serta penuh sensasi diiringi selebrisi (kesenangan dan pesta). 

Banyaknya alternatif tayangan film bernuansa santri, bisa menjadi ajang pengembangan dakwah Islam. Hanya saja bila proyek eksplorasi kehidupan santri itu hanya sebatas citra budaya pop, atau proposal tertentu ( atas nama toleransi, anti radikal dan anti teroris ) maka wajar belakangan muncul treiler film berbasis santri dengan sarat kontroversi berdasarkan nilai murni kepesantrenan, yang ingin mendekatkan “rasa artis” ala santri. Wah![]

Taufik Sentana
Peminat kajian sosial budaya. Praktisi pendidikan Islam.